Opini

Madura Darurat Radikalisme dan ‘Tak Ramah Lagi

Kita berharap supaya Indonesia yang blum satu abad merdeka ini tetap aman dan damai. Kita tidak ingin Indonesia seperti Syiria, kita tidak ingin bom terjadi di Madura seperti pada Syekh Ramadhan al Buthi yang dibom saat pengajian di Masjid Syiria hanya karena dianggp kurang Islami oleh sesama Muslim, kita tidak ingin ada bom terjadi seperti di Mesir saat Shalat Jumat yang membunuh 200 orang dimana pelakunya sesama Muslim.

Kita rindu situasi yang damai, sejuk seperti dulu, bukankah kita tidak tau siapa di antara kita yang paling benar di Mata Allah? Bukankah kita sesama hamba yang derajatnya sama di Mata Allah?

Siapakah kita jika dibanding mahluk Allah yang besar seperti planet, bumi, gunung, langit, matahari, bulan dan bintang, kita sebagai manusia adalah mahluk yang paling kecil dan ‘tak berdaya, lantas apa yang mendasari kita untuk sombong, angkuh dan merasa benar sendiri hingga menganggap kelompok lain sesat, salah, munafik dan pantas dipersekusi?

Bidang kesehatan, sudah berdiri Puskesmas di tiap kecamatan, bahkan di desa-desa sudah ada Polindes.

Indonesia adalah sorga dunia, adzan berkumandang dimana-mana tiap waktu shalat, pesantren dan madrasah dimana-mana, pengajian hampir tiap malam di seluruh pelosok desa, syiar-syiar agama menggema dan dibantu oleh pemerintah (termasuk MTQ). Maulid nabi sebulan penuh juga tidak dilarang oleh pemerintah.

Pasokan listrik aman, kebutuh BBM selalu ada, kebutuhan LPJ terpenuhi, bahan pokok juga tersedia, lantas kurang apa? (Bukan berarti kami membela pemerintah, pemerintah juga ada kekurangannya, tapi dengan segala kekurangannya, mari kita syukuri nikmat bagi bangsa ini).

Hampir semua pejabat negara ada yang santri, bahkan ada yang Kiai, Gubenur, Menteri, bupati, Lepala Kemenag, hingga di birokrasi mulai eselon 1 hingga paling bawah, bahkan tiap momen keagamaan, santri dan pesantren selalu terlibat (dan di MTQ saat ini, banyak dari dewan jurinya adalah Pengasuh Pesantren di Jatim). Ini adalah bukti bahwa keterlibatan umat Islam dan pesantren betul-betul ada pada kebijakan pemerintah. Lantas kurang Islam bagaimana?

Justru, di saat acara syiar agama seperti MTQ ini, mereka tidak tampak muncul untuk mmberi apresiasi dan dukungan, apakah MTQ dianggap bukan acara agama? kita tentu bertanya, sebnarnya mereka membela siapa?
Apakah membela Islam atau membela siapa?

Kita berharap pada aparat, agar lebih tegas dalam bersikap, sebab jika kelompok ini terus dibiarkan tumbuh subur, tentu kita bisa menganalisa apa yang akan terjadi pada Madura dan Indonesia beberapa puluh tahun kedepan.

Wallahu A’lam Bishowab

*Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, Rektor IAIMU Pamekasan dan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom Angsanah, Palengaan, Pamekasan.