Oleh: KH. Taufik Hasyim, M.Pd.I*
Pasca ditangkapnya terduga teroris di Sumenep dengan barang bukti, bikin tenda tanya besar di hati masyarakat madura (sebab tidak mugkin aparat menangkap terduga teroris tanpa bukti, bahkan penulis yakin sang terduga sudah dipantau, disadap dan di awasi bebrapa bulan sebelumnya).
Benar kata seorang tokoh nasional beberapa tahun silam, bahwa “sudah terbentuk jaringan poros Jakarta-Madura dalam membangun ideologi Trans-Nasional dan radikalisme dengan dana besar di Madura” bahkn beberapa teroris pelaku bom bunuh diri (baik yang sudh ditangkap maupun yang belum ditangkap atau bhkn yang sudah di hukum mati) pernah bolak balik ke Sumenep, ‘katanya’ dalam sebuah dialog.
Madura yang dikenal dengan sifat adem, ayem, santun dan halus, kini seakan berubah “terlihat” ganas dan seram.
Sebutlah beberapa kejadian sejak tahun 2017 hingga sekarang, mulai dari penghadangan terhadap KH. Makruf Amin, pengajian yang isinya ‘Banser’ halal darahnya, caci maki di atas panggung, syi’ar agama yang isinya orasi kebencian, pernyataan NU Mutanajjis, pernyataan KH Said Aqil sesat, hingga kasus persekusi yang sedang hangat dibicarakan di Sumenep, isu PKI yang muncul tiap September, isu sesat terhadap NU dan Ansor, dan beberapa kasus lain. Lantas, ada apa dengan Madura sekarang?
Benarkah para pelaku beberapa kejadian di atas berbuat atas nama agama dan sudah pasti benar? Dan benarkah pihak yang di anggap sesat, munafik, pro kafir, pro China itu pasti salah? Benarkah NU mutanajjis? Apa yg salah dengan KH Makruf Amin hingga di hadang? Benarkah pemerintah anti Islam? Sederet pertanyaan itu muncul dibenak kita bersama.
Bukankah tiap masalah bisa dibicarakan dengan baik, lantas kenapa setiap masalah harus dengan unjuk rasa dan tabligh akbar yang isinya hasutan dan ujaran kebencian?

