PAMEKASAN — Sebanyak 15 grup hadrah yang tersebar di sejumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Pamekasan, terlibat dalam kegiata parade hadrah. Parade hadrah ini dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) 2019, digelar pada Rabu malam (23/10/2019) di Aula Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Azis No. 95 Jungcangcang Pamekasan, Madura.
Kiai Hambali, Koordinator acara menuturkan, selain meramaikan peringatan HSN, kegiatan ini dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim antar sesama jam’iyah hadrah di Pamekasan.
“PCNU Pamekasan berupaya menguatkan paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah melalui kesenian hadrah ini. Makanya, para pelakunya kita kumpulkan dan dibuatkan parade,” jelasnya.
Kiai Hambali menambahkan, sudah menjadi komitmen Nahdlatul Ulama melestarikan kesenian dan budaya bangsa yang baik. “karena cikal bakal adanya seni hadrah ini didirikan oleh alim ulama pejuang-pejuang NU, khususnya di Pamekasan,” imbuhnya.
Sementara itu, KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan mengapresiasi dan mendukung penuh berkembangnya jam’iyah hadrah di Pamekasan. Menurutnya, penting melibatkan peran pemuda di era yang penuh tantangan arus informasi ini.
“Seni hadrah perlu dilestarikan sebagai bentuk syi’ar Islam yang penuh kesejukan, serta apresiasi terhadap identitas budaya milik kita,” ungka Kiai Taufik.
Hadrah khas Kabupaten Pamekasan ini, kini komunitasnya semakin berkurang. Bahkan pelakunya sudah banyak yang berusia lanjut. Pemuda yang terlibat dalam kegiatan ini sangat minim.
Mahsus Kholil, salah satu pemuda asal Desa Samatan, Kecamatan Proppo mengungkapkan, dengan adanya perhatian dari PCNU Pamekasan, hadrah yang populer dikenal dengan istilah hadrah “kratangan” ini, semakin banyak diminati masyarakat. Munculnya jenis hadrah baru, ikut mengikis hadrah kratangan.
Reporter: Abror
Editor: Ahnu Idris

