NEWS

PCNU Pamekasan Dukung Berlakunya Perda Iddah

PAMEKASAN – Munculnya wacana Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan yang mendesak eksekutif untuk merancang Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Iddah mendapat perhatian Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh KH. Taufik Hasyim, Mandataris Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan, Sabtu (17/04/2021), di Kantor PCNU Pamekasan, Jl. R. Abd. Aziz, No. 95, Jungcangcang, Pamekasan.

Kiai Taufik mengatakan, PCNU Pamekasan selaku Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam mendukung diberlakukannya Perda Iddah di bumi Gerbang Salam, Pamekasan. Bahkan, pihaknya meminta MUI, Ormas Islam lainnya, dan pihak-pihak terkait untuk membicarakan serius masalah ini.

“Masa iddah adalah masa tinggal di rumah bagi seorang istri yang ditinggal mati suaminya selama 4 bulan 10 hari. Ini hal yang wajib bagi umat Islam. Artinya, seorang istri yang suaminya wafat, dia wajib tinggal di rumah selama 4 bulan 10 hari. Aturan ini tidak kaku. Artinya, jika wanita yg ditinggal mati oleh suaminya harus keluar rumah, yang betul-betul harus dan tidak boleh tidak, maka diperbolehkan. Hal ini adalah aturan syari’at yang harus dipatuhi. Jadi, Hukum ini bermaksud untuk menjaga istri dan keluarganya agar terhindar dari fitnah,” paparnya.

Jika perlu, menurut Kiai Taufik, pihak pemerintah kabupaten Pamekasan, baik legislatif ataupun eksekutif mengundang para tokoh, alim ulama, Ormas Islam dan semua elemen terkait untuk mendiskusikan masalah ini.

“Sebab, banyak terjadi di masyarakat, bahwa masa iddah ini kayaknya sudah tidak diperhatikan lagi, padalah ini aturan syari’at. Ini harus benar-benar dibahas serius. Iddah itu macam-macam, ada masa iddah bagi istri yang ditinggal mati suaminya, ada masa iddah yang dicerai suaminya, ada masa iddah dicerai saat hamil, dan lainnya. Sehingga, jargon Gerbang Salam di pamekasan ini betul-betul ada, tidak hanya simbol semata,” pungkasnya.


Reporter: Citizen
Editor: Citizen