“Ini yang bilang bukan kita, tapi Profesor dari Jakarta. Dia bilang, ‘ini cuma satu. Ini berarti dua dengan yang di sini’. Saya sendiri kan nggak tahu kalau seperti itu (hanya ada dua. Red.),” Ra Ulul kembali menimpali.
Selain itu, turut dipamerkan juga Kitab “Bahrul Lahut”, kitab yang hanya ada tiga di Indonesia. Kitab ini, lanjut Ra Ulul, sering menjadi kajian umum dalam bidang filologi.
Lebih lanjut, Ra Ulul mengatakan, tujuan dipamerkannya manuskrip-manuskrip tersebut agar para pemuda paham, karya-karya kuno itu merupakan kekakayaan budaya bangsa dan kekayaan khazanah ilmiah Islam Nusantara.
Rosyid juga menjelaskan, perpustakaan yang dikelolanya sering didatangi oleh peneliti-peneliti dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari luar negeri.
“Kalau mahasiswa Jember itu setiap semester pasti datang. Biasanya sampai tiga bus. Dari Malaysia juga ada tiga orang. Mereka membandingkan antara Kitab ‘Bahrul Lahut’ yang ada di Malaysia dengan ‘Bahrul Lahut’ yang ada di Indonesia. Ternyata ‘Bahrul Lahut’ yang lengkap ada di Madura, ada di Pamekasan,” ungkapnya.
Reporter: Zainal/Luckman (NUO.19-031)
Editor: Ahnu
Pages: 1 2

