Opini

“Santri Hibrida”: Bijak dan Bajik Merawat Kitab Kuning dan Kitab Putih


Oleh: M Ghufron Hadi *


Transformasi digital turut membentuk cara berpikir anak muda, termasuk santri. Di tengah perubahan itu, pesantren dituntut mampu menjawab tantangan arus informasi yang semakin cepat sekaligus menjaga akhlakul karimah. Pesantren perlu membekali santri agar bijak menerima dan menggunakan informasi di dunia maya.

Pertemuan kajian keislaman dan pengetahuan umum menjadi jalan bagi pesantren untuk merangkul pelajar dan pemuda. Santri pun perlu mengambil bagian dalam menghadapi perubahan zaman. Media sosial, konten yang muncul di halaman rekomendasi atau FYP, serta informasi serba cepat telah memasuki hampir seluruh kehidupan manusia.

Pesantren yang dikenal dengan ketenangan, kedalaman, dan kesederhanaan perlu mengembangkan pembelajaran agar tetap relevan. Perkembangan zaman harus dihadapi dengan tetap menjaga marwah dan identitas santri.

Bagaimana santri tampil sebagai representasi kaum sarungan? Bagaimana mereka melestarikan tradisi membaca kitab kuning sembari membuka diri terhadap kitab putih, yakni buku-buku modern? Bagi kami, keduanya perlu dirawat bersama untuk membentuk santri yang adaptif dan berwawasan luas.

Kitab kuning menjadi jangkar spiritual dan metodologis bagi santri. Melalui pembelajarannya, santri terhubung dengan sanad keilmuan ulama salaf. Di dalamnya, mereka mempelajari akhlakul karimah, ketelitian membaca, kehati-hatian menjelaskan, serta kedalaman hukum Islam.

Santri yang mempelajari kitab kuning juga merawat tradisi tafaqquh fi al-din, yakni mendalami agama. Tradisi ini menjadi bekal agar mereka tidak mudah tergoyahkan oleh tren instan. Meninggalkan pembelajaran kitab kuning berarti kehilangan kompas untuk menjaga keaslian khazanah keislaman.

Namun, mengunci diri pada kitab klasik tanpa menyentuh literatur modern juga merupakan kekeliruan. Kitab putih menjadi jembatan untuk memahami realitas. Melalui buku sains, sosiologi, filsafat kontemporer, dan bidang lainnya, santri dapat mengenali dunia yang lebih luas serta memahami cara kerjanya.

Kaum sarungan perlu mampu mengikuti kemajuan ilmu dan berdialog dengan kalangan intelektual lainnya. Santri harus tumbuh menjadi calon cendekiawan muslim yang memahami ilmu agama sekaligus mengenal pengetahuan umum.

Ketika kedua pengetahuan itu dipadukan, lahirlah santri hibrida. Generasi ini diharapkan mampu menghadapi persoalan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), risiko ekonomi digital, krisis etika, serta anggapan bahwa fatwa ulama klasik telah usang.

Santri perlu menjadi penjaga khazanah keilmuan Islam yang mampu menilai perkembangan ilmu modern secara kritis agar tidak terseret pada penggunaannya yang menyesatkan. Dengan bekal tersebut, mereka juga dapat menyuarakan syiar agama melalui bahasa yang dipahami masyarakat luas.

Menguasai pengetahuan masa lalu saja belum cukup untuk menghadapi masa depan. Kaum sarungan juga perlu menguasai sains dan literasi umum. Jika kitab kuning menjadi fondasi, kitab putih memberikan perangkat konseptual untuk membedah persoalan kemanusiaan hari ini dan masa mendatang.

Perubahan zaman dapat membuat santri gagap beradaptasi apabila mereka tidak membekali diri dengan pengetahuan yang memadai. Karena itu, kaum intelektual sarungan perlu mampu menghadapi pertanyaan baru di era digital: bagaimana menilai transaksi menggunakan uang kripto? Bagaimana menyikapi rekayasa kloning secara etis? Bagaimana sumber daya manusia pesantren dapat ikut menciptakan solusi bagi krisis iklim global?

Di sinilah pengetahuan dari kitab kuning dan kitab putih menjadi pisau analisis untuk membedah persoalan kontemporer. Sikap menutup diri terhadap modernitas perlu ditinggalkan agar santri tumbuh menjadi pemikir yang mampu menawarkan solusi bagi persoalan sosial.

Meski demikian, kemampuan bernalar harus tetap disertai kesadaran tentang asal dan proses memperoleh ilmu. Santri perlu mengingat peran guru dan kiai yang membimbing mereka memahami dasar-dasar pengetahuan.

Ilmu boleh tinggi, tetapi adab harus didahulukan. Seluas apa pun pengetahuan seorang santri, ia tidak sepatutnya merasa lebih tinggi daripada gurunya. Tanpa bimbingan mereka, proses keilmuannya tidak akan terbentuk seperti sekarang.

Guru dan kiai merupakan penyambung mata rantai keilmuan di tengah zaman yang serba instan. Mereka membimbing santri mempelajari kitab kuning sekaligus menjadi tempat bertanya ketika santri memperluas pengetahuan melalui buku-buku modern.

Merawat kitab kuning dan kitab putih bukanlah kompromi yang lemah. Keduanya merupakan strategi pertemuan tradisi literasi yang saling menguatkan. Santri masa kini perlu memegang semangat menjaga tradisi lama yang baik dan menerima tradisi baru yang lebih baik.

Dengan cara itu, kaum sarungan diharapkan tetap menjadi penerang bagi dirinya dan masyarakat: berakar pada khazanah pesantren, terbuka terhadap perkembangan ilmu, serta bijak dan bajik dalam menggunakan pengetahuan.


*Mantan Ketua PC IPNU Kabupaten Pamekasan