Opini

Selamat Harlah Ke-72 IPNU: Miniatur Khidmah Nahdlatul Ulama


Oleh: Ghufron Hadi*


Ikatan pelajar Nahdlatul ulama (IPNU) sudah berdiri tujuh puluh dua tahun tepat hari ini. Keringat yang sudah berjasa menapaki jalan-jalan khidmat terbayarkan. 2018 menjadi awal kenal dengan perkumpulan pemikir di kalangan pelajar pada saat rentan beradaptasi dengan dengan para pelajar. IPNU sudah menyatakan keseriusannya dalam menjawab generasi NU di masa depan organisasi di bawah naungan NU, tempat berproses berhimpun dan wadah komunikasi putra-putri NU, bagian potensial generasi emas NU menitikberatkan bidang garapannya pada pembinaam kaderisasi pengembangan potensi diri remaja dan santri.

IPNU berakidah ahlusunah waljamaah yang berhaluan pada salah satu mazhab yang empat: Imam Hanafi, Imam Hanbali, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sudah barang tentu menempuh luka, liku perjuangan, khidmah yang melelahkan, tapi di balik perjalanannya, organisasi keterpelajaran ini sudah berhasil mencetak kader dalam memelihara kekeluargaan pelajar di Pesantren, madrasah, solekolah, bahkan mahasiswa yang sehaluan. Tidak kalah penting dari semua itu IPNU tetap konsisten membentuk pelajar yang bertakwa kepada Allah SWT,  berilmu, berakhlak mulia, berwawasan ke-Bhenika-an serta bertanggung jawab atas terlaksananya ajaran ahlusunnah waljamaah di tengah-tengah masyarakat.

Semakin tidak tebendung nilai-nilai radikalisme, mengakarnya sifat-sifat hedonis di kalangan pelajar, kian pudarnya nilai berbangsa dan bernegara, IPNU harus siap berlabuh dengan zaman, bisa memegang kendali akan keterbiasaan itu dan memberikan sinyalelemen waktu. Jika IPNU ingin tetap eksis, harus konsisten pada pendiriannya sesuai cita-cita pendiri organisasi ini KH. Tolhah Mansur, dengan titahnya: “Tjita pendiri IPNU ialah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calun kasta elite dalam masyarakat. Tidak. Kita menginginkan masyarakat yang berilmu, tetapi jang dekat dengan masyarakat.” Dari hal demikian, meskipun kita dihadapkan dengan mindset siapa yang berkuasa ialah mereka yang paling pintar berbicara, bukan berilmu, kita harus tetap mempertahankan cita-cita pendiri IPNU ini.

Nilai subtansial dalam perjalan khidmah organisasi pelajar harus dilandaskan dengan niat mengabdi yang ikhlas, pendalaman ideologi kader, reaksi aktif identitas dan jati diri bangsa, serta pelatihan dalam melatih skil Individu harus dijadikan modal utama dalam mendarma baktikan miniatur berkhidmah di Nahdlatul Ulama, pengurus, kader dan anggota IPNU wajib menjadikan organisasi sebagai fondasi utama cinta pada ulama melalui aksi dan tradisi.

Dalam sketsa pada logo hari lahir (Harlah) ke-72 IPNU, yakni lekukan mahkota, sikap tunduk dan  ornamen lekukan itu sudah memvisualisasikan bagaimana kader IPNU harus mempunyai sikap tawaduk dan ketaatan seorang santri atau pelajar, juga secara aktualisasi mendalam kita sebagai badan otonom (Banom) termuda di Nahdlatul Ulama berkomitmen tanpa henti khidmah yang tulus terhadap Ulama, organisasi dan bangsa serta mencerminkan dedikasi yang tak tergoyahkan, menuntut ilmu. Dalam prespektif lain organisasi ini menegaskan semakin tinggi ilmu yang dicapai, maka semakin tinggi pula tanggung jawab untuk tetap rendah hati dan setia pada garis perjuangan muassis IPNU wabilkhusus NU.

Mengambil tema “Meneguhkan Khidmah Pelajar Menuju Peradaban Mulia” adalah rekontruksi khidmah sebagai aksi nyata, bukan sekadar slogan di usia yang sudah lebih separuh abad IPNU mengabdi dengan tindakan aktif, bukan pasif, menekankan organisasi ini harus menjadi pelopor di tengah masyarakat, khususnya pelajar, dengan mengambil peran langsung dengan menjawab disrupsi zaman. Khidmah di sini bukan hanya diartikan pintar dalam intelektual, tetapi juga spritual, karena intelektualitas tanpa spritualitas adalah kehampaan.

Meneguhkan khidmah dapat juga diartikan penggambaran visi IPNU dalam membentuk generasi yang memiliki etika, beradab dan mampu merawat faham ahluuunnah waljamaah di tengah derasnya arus disrupsi. Ini adalah komitmen nyata menciptakan peradaban ber-akhlaqul-karimah dari akar pelajar. IPNU, sekali lagi, menegaskan komitmenya keseimbangan antara Imtak (iaman dan takwa) dan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Pelajar NU jangan hanya meraih kepintaran akademik, tetapi juga kedalaman spritual untuk menghilangkan kehampaan karakter.

Semoga di Harlah ke-72 IPNU, cita-cita pendiri yang sempat goyah, terkuatkan kembali melalui keteguhan visi untuk mencetak pelajar yang siap menghadapi era AI. Bagi pelajar NU,  ahlusunah waljamaah ila yaum al-qiyamah.


*Ketua PC IPNU Kabupaten Pamekasan