Oleh: Taufik Hasyim
Tak terasa seminggu sudah kami di Madinah dan besok, Ahad 21 Juli 2024, kami harus pergi meninggalkannya.
Saat kami datang dan mengucapkan salam pertama kali pada baginda Nabi Muhammad Saw, tak terasa air mata ini mengalir deras tak terbendung ibarat banjir yang membasahi daratan, namun hari kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, ketujuh air mata itu tetap mengalir, tetapi tidak sederas pertemuan pertama. Ketika saat perpisahan tiba, aku tak tahu harus bagaimana seakan tak bisa berkata apa-apa untuk mengucapkan salam pamitan pada kekasihku Muhammad Saw.
Di Madinah ini kami ikuti jejak napak tilas beliau, kami kunjungi tempat perjuangan beliau. Kami ke Gunung Uhud untuk mengucapkan salam pada Singa Allah, Sayyid Hamzah, dan syuhada Uhud yang rela berkorban untuk Islam dan Rasulullah. Kami juga kunjungi Makam Baqi’, yang di sanalah ribuan sahabat nabi yang utama dikubur, di sana ada Sahabat Usman, Sahabat Abu Hurairah Ra, sahabat yang banyak meriwayatkan Hadis. Di sana dikubur istri-istri nabi, ada Aisyah, ada Hafshah, ada Zainab, Ra. Di sana juga dikubur beberapa putra-putri nabi.
Kami juga kunjungi Masjid Quba, yang jika salat di dalamnya setara dengan pahala ibadah umrah.
Kami juga kunjungi Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar, Sumur Gharas, Khandaq, Masjid Qibalaitin. Beberapa tempat-tempat lain yang memiliki makna dan nilai sejarah dalam perjuangan Islam.

Ya Allah, saksikanlah bahwa kami bersyahadat di hadapan Nabi-Mu. Wahai Kekasih Allah, Nabi Muhammad, saksikanlah bahwa kami bersyahadat di depanmu. Kami juga menyaksikan bahwa engkau telah melaksanakan tugas kenabian dengan membawa misi Islam sebagai agama tauhid.
Wahai para istri-istri nabi, saksikan bahwa kami bersyahadat di hadapan panjenengan semua. Wahai para sahabat nabi, saksikanlah bahwa kami bersyahadat di hadapan Nabi Muhammad Saw. Wahai Madinah, kami menyaksikan bahwa semua tempat di kelilingmu adalah tempat perjuangan kekasih Allah, Muhammad Saw.
Izinkan kami pamit menemui keluarga, anak, famili, kerabat, tetangga dan sanak tauladan. Bukan kami ingin berpisah denganmu, namun garis kehidupan mengharuskan kami untuk kembali ke tanah air kami untuk meneruskan garis takdir kami.
Wahai Nabi Muhammad, maafkan kami jika ziarah kami di Madinah ini penuh maksiat, penuh kealpaan, penuh main-main dan tidak serius dalam sowan menghadapmu. Wahai Nabi Muhammad, akui kami sebagai umatmu dan kami ingin bersamamu kelak di dalam surga firdaus.
Wahai Nabi Muhammad, kekasih Allah. Doamu istijabah.
Ya Allah, berkat keistimewaan Nabi Muhammad, jadikan haji kami haji Mabrur, umrah yang makbul, ibadah yang diterima, ziarah yang bernilai ibadah di hadapan-Mu.
Ya Allah, jadikan anak-anak kami anak yang shalihin-shalihat. Panggil semua keluarga, anak-anak kami, famili kami, kerabat kami, sanak tauladan kami. Panggil mereka semua untuk bisa sampai kedua tanah haram-Mu, Makkah dan Madinah untuk berhaji, umrah dan ziarah di makam Nabi-Mu.
Kami tahu, kami tidak pantas bermunajat di hadapan nabi-Mu, karena kotornya hati kami. Tapi kami yakin, bahwa rahmat-Mu lebih luas ketimbang dosa kami. Oleh karenanya, ampuni kami, hapus dosa dan khilaf kami, sebab Engkau maha pengampun dan maha penerima tobat. Amin ya Rabb al-‘alamin.
Salam rindu dari Madinah Al-Munawwaroh.

