PAMEKASAN – Tongkat komando berisi ijazah sejumlah kiai dan jam dinding lukisan tangan menjadi dua benda bersejarah dalam perjalanan KH. M. Sahibuddin atau yang akrab disapa Kiai Saheb, memimpin Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pamekasan. Kedua benda tersebut menyimpan cerita nilai-nilai spiritual, kemandirian ekonomi organisasi, serta kedekatan Ansor dengan jajaran pengurus hingga tingkat ranting.
Saat ditemui Media NU Pamekasan di kediamannya, Desa Pangorayan, Kecamatan Proppo, Kiai Saheb mengungkapkan dirinya memimpin PC GP Ansor Kabupaten Pamekasan dalam dua masa khidmat, yakni 1989–1992 dan 2000–2005. Penunjukannya sebagai ketua saat itu dilakukan langsung oleh Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah.
“Saya memimpin Ansor Pamekasan dengan ditunjuk langsung oleh Rais Syuriah dan Tanfidziah saat itu, karena sejak tahun 1965 Ansor Pamekasan tidak ada, karena adanya serangan PKI,” ucap mantan Rektor Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan , Kamis (15/10/2026)
Salah satu benda yang memiliki nilai historis baginya ialah tongkat komando. Tongkat tersebut bukan sekadar simbol kepemimpinan, tetapi juga menyimpan nilai spiritual karena mendapat ijazah dari sejumlah kiai.
“Tongkat ini sangat bersejarah karena diijazah oleh beberapa kiai, baik itu hizib maupun ijazah lainnya. Dan menariknya, dulu saya dibilang kayak Dandim karena pegang tongkat komando ini,” tuturnya.
Selain tongkat komando, Kiai Saheb menyimpan cerita tentang jam dinding yang dibuat dengan lukisan tangan oleh seorang guru sekolah dasar bernama Pak Harto. Benda tersebut memiliki makna tersendiri dalam perjalanan GP Ansor Pamekasan pada masa kepemimpinannya.
“Sedangkan jam dinding ini merupakan asli tulisan tangan dari seorang guru SD bernama Pak Harto, dan jam dinding ini menjadi simbol kemandirian ekonomi Ansor Pamekasan saat itu dan menjadi buah tangan cabang untuk anak cabang dan ranting ketika kami turun,” paparnya.
Menurut penuturan Kiai Saheb, jam dinding tersebut tidak hanya menjadi benda kenang-kenangan, tetapi juga merepresentasikan upaya kemandirian ekonomi organisasi. Jam itu sekaligus menjadi buah tangan pengurus cabang ketika melakukan kunjungan kepada pengurus anak cabang dan ranting.
Kisah kedua benda tersebut menjadi bagian rekam jejak kepemimpinan KH. M. Sahibuddin selama menduduki kursi ketua di PC GP Ansor Kabupaten Pamekasan. Tongkat komando menyimpan cerita tentang ijazah para kiai, sedangkan jam dinding lukisan tangan merekam semangat kemandirian ekonomi dan hubungan antartingkatan kepengurusan.
Reporter: Ary Hidayad
Editor: Ahnu

