Opini

Jihad Digital dan Tugas Media NU Pamekasan Menjadi Penyeimbang


Oleh: Muhammad Ahnu Idris*


Seseorang membuka media sosial dan menemukan video yang menyebut sebuah amaliah NU tidak sesuai dengan ajaran Islam. Video itu singkat, tetapi pernyataannya tegas. Di kolom komentar, sebagian orang membenarkannya dan sebagian lain membantah. Bagi orang yang selama ini menjalankan amaliah tersebut, pertanyaan yang muncul mungkin sederhana: apa sebenarnya dasar amaliah itu?

Pertanyaan itu dapat muncul di rumah, di antara teman, atau di grup WhatsApp keluarga. Namun, jawaban yang mudah ditemukan belum tentu menjelaskan persoalannya. Satu unggahan mungkin hanya memuat tuduhan. Unggahan lain membalas dengan kemarahan. Orang yang semula ingin belajar akhirnya berhadapan dengan perdebatan yang membuatnya semakin sulit memahami duduk perkara.

Situasi seperti ini membuat sambutan Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan, KH. Muchlis Nasir, dalam acara Upgrading Redaksi Media NU Pamekasan terasa penting. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (26/09/2026) di Yayasan Al-Thahiriyah, Taretah I, Palengaan Daja. Di hadapan kru media, Kiai Muchlis menyampaikan sebuah ungkapan: “Barang siapa ingin menguasai dunia, maka kuasailah media.”

Ungkapan itu mengingatkan bahwa media dapat memengaruhi apa yang diketahui masyarakat. Sebuah persoalan bisa dikenal luas karena terus muncul di layar. Sebaliknya, penjelasan yang baik bisa luput dari perhatian jika tidak hadir di tempat orang mencari informasi. Pengaruh media dengan demikian terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika orang berusaha memahami ajaran agamanya.

Kiai Muchlis mengatakan bahwa Media NU Pamekasan bukan sekadar bertugas memberitakan agenda ke-NU-an. Media ini perlu menjadi penyeimbang di tengah pesatnya arus informasi. Ia menyinggung banyaknya konten yang menyudutkan NU dan amaliahnya. Jika ada yang menyatakan suatu amaliah tidak sesuai dengan ajaran Islam, kru media diminta membuat konten yang menjelaskan dalil amaliah tersebut.

Ajakan itu dapat dipahami sebagai bagian dari jihad digital yang ditekankan Kiai Muchlis: kerja sungguh-sungguh untuk menghadirkan penjelasan keagamaan di ruang tempat masyarakat kini menerima informasi. Pekerjaan itu membutuhkan pengetahuan, ketelitian, dan kemampuan berkomunikasi. Sebuah jawaban perlu sampai kepada orang yang sedang bertanya, bukan hanya kepada mereka yang sejak awal sudah sepakat.

Bayangkan seorang pemuda yang melihat kritik terhadap amaliah keluarganya. Ia mungkin belum memiliki cukup pengetahuan untuk menilai isi video tersebut. Jika Media NU Pamekasan membuat penjelasan yang mudah ditemukan, ia dapat membaca alasan amaliah itu dilakukan. Bila masih memiliki pertanyaan, ia tahu bagian mana yang perlu dipelajari lebih lanjut. Inilah manfaat yang dapat dirasakan warga dari kehadiran media keagamaan.

Keadaan tersebut memperlihatkan salah satu persoalan dalam dakwah digital. Penjelasan agama kini tidak hanya didengar ketika seseorang hadir di pengajian. Ia juga dijumpai melalui pencarian, rekomendasi video, dan unggahan yang dibagikan orang lain. Heidi Campbell, yang meneliti agama dan internet, menunjukkan bahwa ruang digital berkaitan dengan persoalan otoritas keagamaan: siapa yang didengar dan dipercaya ketika orang mencari pemahaman agama secara daring.

Bagi Media NU Pamekasan, persoalannya sangat nyata. Pengetahuan para kiai dan penjelasan dalam kitab perlu hadir dalam bentuk yang dapat dijangkau pengguna media sosial. Namun, memindahkan penjelasan itu ke layar tidak cukup dengan merekam ceramah lalu mengunggahnya. Redaksi perlu mengetahui pertanyaan apa yang sedang beredar, memilih bagian yang paling perlu dijelaskan, dan memastikan ringkasannya tidak mengubah maksud sumber.

Menjelaskan dalil juga memerlukan ketelitian. Ketika sebuah amaliah dipersoalkan, redaksi perlu memahami keberatan yang diajukan. Apakah yang dipertanyakan dasar amaliahnya, cara pelaksanaannya, atau anggapan tertentu tentang orang yang menjalankannya? Jawaban terhadap satu pertanyaan belum tentu menjawab pertanyaan lainnya. Karena itu, isi konten sebaiknya berangkat dari persoalan yang jelas.

Setelah itu, dalil dan penjelasan ulama perlu dihubungkan dengan amaliah yang dibahas. Menampilkan ayat atau hadis saja belum selalu cukup bagi pembaca awam. Mereka perlu dibantu memahami mengapa sumber itu dikutip dan bagaimana para ulama menjelaskannya. Jika terdapat perbedaan pendapat, redaksi dapat menerangkannya dengan bahasa yang tenang. Perbedaan yang dijelaskan secara jujur memberi orang kesempatan belajar tanpa merasa harus memusuhi pihak lain.

Di sinilah tugas menjadi penyeimbang memperoleh bentuk yang lebih jelas. Media NU Pamekasan tidak cukup hanya menambah jumlah unggahan yang membela NU. Ia perlu menyediakan penjelasan yang dapat dibaca ketika orang menghadapi sebuah tuduhan. Sebuah konten dapat dimulai dari pertanyaan yang sering muncul, dilanjutkan dengan dasar amaliah dan penjelasan ringkas, lalu menunjukkan sumber bagi pembaca yang ingin mendalaminya.

Kiai Muchlis juga mengajak seluruh kru meningkatkan kualitas konten di semua platform agar dapat menarik pengguna media sosial. Ia meminta mereka berani out of the box, tidak monoton, dan mampu membawa nilai ke-Aswaja-an ke tengah masyarakat. Pesan ini menyangkut isi sekaligus cara penyampaiannya. Penjelasan yang teliti akan lebih berguna bila orang tertarik untuk membuka dan mengikutinya sampai selesai.

Misalnya, satu pertanyaan tentang amaliah dapat dijawab terlebih dahulu melalui video singkat dengan bahasa sederhana. Penjelasan yang lebih lengkap kemudian tersedia dalam tulisan. Setiap bentuk mempunyai ruang yang berbeda, sehingga redaksi perlu memilih informasi yang paling penting untuk masing-masing bentuk. Video singkat tidak harus memuat seluruh pembahasan, tetapi juga tidak boleh memotong dalil hingga menimbulkan pengertian yang keliru.

Judul, gambar, dan kalimat pembuka ikut menentukan bagaimana konten dipahami. Dalam kajian komunikasi, pilihan atas bagian yang ditonjolkan disebut framing atau pembingkaian. Robert Entman menjelaskan bahwa cara sebuah persoalan disajikan memengaruhi bagian mana yang memperoleh perhatian pembaca. Bagi redaksi, hal ini berarti judul perlu menarik tanpa melebih-lebihkan isi, dan sebuah bantahan perlu menerangkan persoalan yang dibantah.

Pada akhirnya, mutu konten tidak hanya terlihat dari banyaknya orang yang menonton. Pertanyaan yang lebih penting ialah apakah penonton menjadi lebih memahami persoalan setelah melihatnya. Apakah mereka mengetahui sumber penjelasannya? Apakah mereka dapat membedakan dalil, pendapat ulama, dan komentar yang beredar di media sosial? Pertanyaan-pertanyaan itu dapat membantu kru menilai apakah sebuah konten sudah menjalankan tugas dakwahnya.

Jihad digital yang disampaikan Kiai Muchlis dengan demikian menuntut kerja redaksi yang terus-menerus. Kru perlu mendengar pertanyaan warga, memeriksa bahan bersama orang yang memahami persoalan keagamaan, lalu menyajikannya dengan cara yang sesuai bagi pembaca atau penonton. Ketika ada kekeliruan, perbaikannya pun perlu disampaikan secara terbuka. Kepercayaan tumbuh dari pekerjaan yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di tengah banyaknya konten yang mempersoalkan amaliah NU, warga membutuhkan tempat untuk mencari jawaban. Media NU Pamekasan dapat mengisi kebutuhan itu dengan penjelasan yang bersumber jelas, mudah diikuti, dan menghargai keinginan orang untuk belajar. Di situlah perannya sebagai penyeimbang menjadi terasa: ketika seseorang yang datang dengan pertanyaan dapat pulang dengan pemahaman yang lebih baik.


* Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr PCNU Kabupaten Pamekasan