Oleh: Prof. Dr. H. Atiqullah, S.Ag., M.Pd*
Peringatan hari lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali peran strategis perempuan Nahdliyin dalam membangun bangsa. Tema besar “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban” bukan sekadar slogan seremonial, melainkan paradigma gerakan sosial-keagamaan yang relevan dengan tantangan zaman. Tema tersebut menegaskan bahwa Muslimat NU tidak hanya bergerak dalam ranah domestik keagamaan, tetapi juga menjadi aktor penting dalam penguatan kepemimpinan sosial, pendidikan keluarga, ekonomi umat, serta pembangunan peradaban yang inklusif.
Dalam perspektif kepemimpinan, tradisi merupakan sumber legitimasi moral yang menjaga kesinambungan nilai. Sejak didirikan pada 1946, Muslimat NU telah mewarisi tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang menekankan moderasi, keseimbangan, dan penghormatan terhadap budaya lokal. Tradisi tahlil, yasinan, pengajian, hingga praktik gotong royong bukan hanya ritual keagamaan, melainkan mekanisme sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat. Di Kabupaten Pamekasan, tradisi tersebut hidup dalam kultur pesantren dan menjadi modal sosial yang menjaga harmoni masyarakat Madura.
Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari yang menempatkan tradisi sebagai sarana menjaga kemaslahatan umat. Dalam konteks Muslimat NU, tradisi bukan bentuk konservatisme pasif, melainkan energi kebudayaan yang mampu menjadi penyangga identitas bangsa di tengah derasnya globalisasi. Karena itu, merawat tradisi berarti merawat akar peradaban.
Para muassis dan tokoh Muslimat NU terdahulu telah menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas kepemimpinan yang besar dalam kehidupan sosial-keagamaan. Nyai Hj. Siti Mahmudah Mawardi misalnya, dikenal sebagai figur yang memperjuangkan pendidikan perempuan dan penguatan organisasi sejak masa awal berdirinya Muslimat NU. Ia menegaskan bahwa perempuan harus memiliki akses terhadap pendidikan agar mampu menjadi pendidik utama dalam keluarga dan masyarakat. Spirit inilah yang kemudian diwariskan kepada generasi Muslimat NU hingga hari ini.
Dalam perkembangan berikutnya, kepemimpinan perempuan NU semakin menemukan bentuk strategisnya melalui figur seperti Khofifah Indar Parawansa. Khofifah menekankan bahwa perempuan adalah pilar ketahanan keluarga dan bangsa di tengah ancaman krisis global, ekonomi, dan disrupsi sosial. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Muslimat NU tidak berhenti pada aktivitas simbolik, tetapi bergerak menuju kepemimpinan transformasional yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.
Kemandirian menjadi kata kunci kedua dalam tema Harlah ke-80. Dalam teori kepemimpinan modern, organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu menciptakan keberdayaan anggota secara ekonomi, sosial, dan intelektual. Muslimat NU telah membuktikan hal tersebut melalui penguatan koperasi, UMKM, pendidikan, dan layanan kesehatan masyarakat.
Bagi Muslimat NU Kabupaten Pamekasan, penguatan kemandirian memiliki relevansi yang sangat besar. Pamekasan dikenal sebagai daerah dengan kultur religius yang kuat, namun masih menghadapi tantangan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks ini, Muslimat NU dapat mengambil peran strategis melalui pengembangan ekonomi berbasis pesantren, literasi digital perempuan, pelatihan kewirausahaan, serta pendidikan keluarga yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Kepemimpinan perempuan tidak lagi dipahami sebatas kemampuan mengelola rumah tangga, tetapi juga kemampuan menciptakan perubahan sosial yang berkelanjutan.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemikiran KH. Abdurrahman Wahid yang menekankan bahwa Islam harus hadir sebagai kekuatan kemanusiaan, pemberdayaan sosial, dan penggerak peradaban yang inklusif. Bagi Gus Dur, tradisi pesantren dan nilai-nilai keislaman tidak boleh dipertentangkan dengan modernitas, melainkan harus menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang demokratis, toleran, dan berkeadaban. Dalam kerangka itu, Muslimat NU memiliki posisi strategis sebagai jembatan-relasi antara nilai tradisional pesantren dan kebutuhan masyarakat modern.
Adapun frasa “meneduhkan peradaban” merupakan puncak dari orientasi gerakan Muslimat NU. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, intoleransi, dan krisis moral global, Muslimat NU hadir membawa wajah Islam yang ramah, moderat, dan penuh kasih sayang. Perempuan memiliki kemampuan membangun pendekatan persuasif dalam merawat harmoni sosial. Karena itu, kepemimpinan perempuan Muslimat NU sangat relevan dalam membangun peradaban yang damai dan humanis.
Dalam konteks lokal Pamekasan, semangat meneduhkan peradaban dapat diwujudkan melalui penguatan budaya dialog, pendidikan karakter generasi muda, serta penguatan nilai-nilai keislaman yang toleran. Muslimat NU dapat menjadi pelopor gerakan sosial yang mengedepankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah (baca : KH. Ahmad Siddiq). Peradaban yang teduh bukan berarti lemah, tetapi peradaban yang mampu menghadirkan keadilan, keseimbangan, dan kemanusiaan. Harlah ke-80 Muslimat NU pada akhirnya menjadi refleksi penting bahwa organisasi perempuan Nahdliyin ini bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penggerak perubahan sosial. Dengan tradisi sebagai fondasi moral, kemandirian sebagai kekuatan gerak, dan peradaban sebagai orientasi perjuangan, Muslimat NU akan terus menjadi pilar penting dalam membangun Indonesia yang religius, dan berkeadaban. Selamat Harlah Muslimat NU ke-80 terkhusus Muslimat NU Kabupaten Pamekasan, momentum ini harus menjadi energi baru untuk melahirkan kepemimpinan perempuan yang visioner, adaptif, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah[]
* Guru Besar Kepemimpinan UIN Madura dan Wakil Ketua PCNU Pamekasan

