Opini

Selamat Hari Guru Nasional, Kawan

Oleh: Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni*

“Menurut pendapatku, bahwa hak seorang guru harus lebih diindahkan melebihi seluruh hak, dan lebih wajib dijaga bagi setiap muslim. Sehingga sangat layaklah sebagai tanda memuliakan guru; andaikata ia diberi 1000 dirham karena mengajar satu huruf,” kata Imam Ali.

Lagi, Sayyidina Ali karramallahu wajhah berkata, “Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf, jika dia mau silakan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya.”

Kalau melihat dua pernyataan Sayyidina Ali di atas, kita adalah budak-budak bagi orang yang telah mengajari kita, bahkan orang yang hanya mengajari satu huruf sekali pun. Tapi substansi yang ingin disampaikan oleh Sayyidina Ali, bukan sebuah cara untuk mempermudah perbudakan, tetapi lebih kepada bagaimana tingginya nilai ilmu yang orang lain berikan kepada kita sehingga kita pantas menjadi budak bagi mereka yang telah mengajari kita, atau dengan kata lain, hormatilah orang yang telah mengajari kita.

Iya, memang benar, guru banyak sekali berperan dalam kehidupan kita. Sebagai sebuah pengetahuan yang integral setiap guru mempunyai perannya masing-masing untuk membuat kita lebih tahu. Transfer keilmuan yang diberikan oleh setiap guru telah menjadikan kita seorang pribadi—pribadi yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Guru memang tidak sepenuhnya mengajarkan kita untuk sampai menjadi seperti saat ini. Tetapi dasar-dasar yang telah ditanamkan kepada jiwa kita menjadi modal awal sebagai umpan untuk mendapatkan bagian-bagian yang lain dari ilmu pengetahuan. Guru mempunyai peran dalam perjalanan hidup kita.

Setiap orang—termasuk guru—mempunyai kelebihannya masing-masing. Sehingga interaksi yang harus dibangun tidak hanya dengan satu orang saja, tetapi dengan banyak orang karena setiap orang mempunyai kelebihan dan keilmuan tersendiri. Semakin banyak mengatahui ilmu, maka kita akan semakin mengerti tentang sesuatu yang tidak kita ketahui, membuka cakrawala berpikir, menambah wawasan baru dan lain sebagainya.

Dalam kehidupan ini saya punya begitu banyak guru. Pertama, saya punya guru di rumah, ia mengajari saya berbicara–sebagai modal awal untuk mendapatkan ilmu yang lain—agar saya dapat mengerti apa yang akan disampaikan oleh guru-guru berikutnya di bangku-bangku yang lain. Kedua, saya punya guru di langgar, ia mengajari saya tentang alif yang berdiri tegak dan ya’ yang bertitik dua di bawah, sampai setengah hafal jus pertama dari alquran karena sering diulang karena tidak kunjung mengerti.

Ketiga, saya juga punya guru yang mengajari huruf latin sampai tahu menulis dan membaca serta memahami apa isi bacaan itu. Guru saya itu mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Kontribusi mereka kepada pribadi saya saat ini sungguh besar. Tentu, saya berterima kasih untuk itu semua.

Keempat, guru yang mengajari tentang syahadat, shalat, puasa dan lain-lain. Ia, mengajari saya tentang sesuatu yang baik dan yang buruk; tentang sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Mengajari akhlak, mulai dari akhlak makan, berpakaian, berinteraksi dengan orang lain, baik itu yang lebih muda atau yang lebih tua, utamanya bagaimana juga berinteraksi dengan para guru, tokoh, kiai, dan para ulama, serta siapapun yang kita jumpai.

Berikutnya, ia adalah teman-temanku. Mereka adalah guru-guruku. Bukan hanya satu huruf ketika berdiskusi dengan mereka, bahkan sampai berbusa-busa. Sampai pernah suatu ketika saya menyangka dia sedang keracunan saking sangat banyak busanya keluar dari mulutnya (yang ini guyon: heeee). Kalian semua adalah guruku yang dihadirkan oleh Allah ke dunia ini.

Selamat Hari Guru Nasional, semoga dengan hari guru ini, kita semakin memahami tentang substansi seorang guru. Seorang guru tugasnya memang berat yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, seorang guru juga menjaga akhlak anak bangsa, maka dari itu seorang guru harus mampu menjaga akhlaknya masing-masing. Jangan ciderai nilai keguruan itu dengan tuntutan-tuntutan yang memberikan penilaian kurangnya keikhlasan sebagai seorang guru, seperti menuntut pemerintah untuk menjadikan dirinya sebagai PNS.

Wallahu a’lam!


*Sekretaris Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Pamekasan