Opini

Khidmat NU Untuk Bangsa

Muktamar ke-33 tahun 2015 di Jombang. Saya hadir bukan sebagai “muktamirin” tapi kader NU biasa yang ingin merasakan lebih dekat atmosfer penyelenggaraan musyawarah level tertinggi. Ulama dari semua daerah bahkan dari mancanegara hadir memadati alun-alun Jombang, Jawa Timur. Jombang benar-benar ramai.

Sebagai kader biasa yang tidak bersangkutpaut dengan pelaksanaan Muktamar, status saya —sebagaimana guyonan Gus Ipul dalam sambutannya sebagai ketua panitia— adalah “hadirot”. Bukan “hadirin”. Gus Ipul membagi nahdliyin yang hadir dalam dua kategori, yaitu: Hadirin dan hadirot.

Dua istilah guyonan: hadir(in) berarti di forum, dan hadir(out) di luar forum. Saking banyaknya yang hadir, istilah ini digunakan untuk menyambut nahdiyin sebagai peserta dan yang hanya peramai saja. Karena dua istilah ini “muktamirin” dibuat tertawa, dan sontak menjadi candaan nahdliyin di arena Muktamar.

Berstatus “hadirot”, saya numpang tempat dan makan di stand Distro NU-nya, Tsanin A. Zuhairi. Dari tempat ini, saya hanya bisa melihat kegiatan Muktamar dari luar. Ingin rasanya maksa masuk, namun tak kuasa oleh keamanan yang cukup ketat. Meski begitu, dari luar forum, atmosfer Muktamar sangat terasa.

Kita tahu, pada gelaran Muktamar itu, NU membawa gagasan Islam Nusantara. Gagasan yang tidak mudah. Selain mendapatkan apresiasi tidak sedikit yang menolak. Satu sisi, NU harus menjernihkan pemahaman kepada nahdliyin bahwa Islam Nusantara tidak lebih sebagai model keberislaman yang moderat; tidak condong ke kanan yang radikal, tidak pula ke kiri-kirian yang liberal.

Apalagi diklaim merupakan ajaran dan mazhab baru, tidak. Islam Nusantara, sebagaimana dawuh Kiai Said Aqil Siroj merupakan tipologi Islam yang ramah, santun, moderat, dan toleran. Islam yang menghormati budaya dan tradisi Nusantara selama tidak bertentangan dengan yang prinsip, yaitu, syariat Islam.

Di sisi yang lain, NU melawan masifnya stigmatisasi Islam Nusantara, yang disebut ajaran baru dan sesat. Tentu, ini bagian dari propaganda pembusukan NU dari luar. Celakanya, propaganda ini diamini sebagian nahdliyin. Saya ingat, waktu itu, ada delegasi yang kebetulan berkunjung ke Distro NU, tanpa segan ia berujar:

“Islam Nusantara adalah JIN alias Jaringan Islam Nusantara.” Dugaan saya, yang bersangkutan sengaja mau mengonfirmasi gagasan Islam Nusantara 11-12 dengan jaringan Islam liberal atau JIL. Dan, asumsi seperti ini, sampai hari ini masih hidup dalam pikiran orang-orang yang pikirannya dangkal.

Di tengah rongrongan kuat kelompok kanan, salafi takfiri, yang memprovokasi keberislaman kebanyakan orang Indonesia dengan tuduhan bidah, syirik, dan kafir, mereka membuka konflik dan permusuhan baik dengan penganut sesama agama, antar agama, dan puncaknya konflik sebangsa.

NU tidak ingin disintegrasi semakin lama semakin menguat karena perbedaan amaliah, mazhab, dan agama. Melalui gagasan Islam Nusantara, Muktamar yang ke-33, NU membawa pesan kerukunan, perdamaian, dan persatuan bangsa. NU mencerahkan bangsa dengan model keberagamaan yang rahmat.

Cara beragama yang tidak merasa benar sendiri dengan membidah-kafirkan yang lain, cara beragama yang mengasihi dan menghormati penganut agama lain, cara beragama yang menyatukan bukan meretakkan. Islam Nusantara adalah ijtihad NU menjaga harmoni kehidupan berbangsa.

Inilah khidmat NU untuk bangsa Indonesia. Lima tahun berlalu, dan sekarang, kita merasakan benar manfaat gagasan besar Islam Nusantara; tetap rukun dalam kebhinekaan, harmoni dalam kebersamaan. Meski tidak dipungkiri, gangguan akan selalu ada. Justru karena itu persatuan teruji.

Hari ini, di Lampung, NU menggelar Muktamar ke-34 dengan tema, “Kemandirian warga untuk perdamaian dunia.” Melalui Muktamar ini, NU hadir memikirkan nasib bangsa. Mencari solusi untuk menyelesaikan masalah sosial-ekonomi yang mendera bangsa, dan menghadirkan tindakan nyata untuk perdamaian dunia.

Lima tahun yang akan datang, semoga nahdliyin dan bangsa Indonesia pada umumnya, merasakan manfaat keputusan muktamar yang sedang berlangsung hari ini. Akhirnya, selamat melaksanakan Muktamar, satu abad NU mengabdi untuk umat, semoga senantiasa diridhai oleh Allah SWT. Amin.


Minhaji Ahmad (aktivis NU Pamekasan)