Opini

Catatan Rindu dari Makkah: Ziaroh Ke Kota Thaif

Oleh: Taufik Hasyim

Thaif adalah kota di Provinsi Mekkah, tepatnya di lereng Pegunungan Sarawat. Setiap musim panas, Pemerintahan Saudi pindah dari panasnya Riyadh ke Thaif. Hawanya sejuk, layaknya seperti udara di Puncak Pas, Bogor, Jawa Barat atau di Tretes Jawa Timur. Kesejukan kota Thaif banyak digunakan sebagai tempat peristirahatan dan pariwisata di musim panas, bahkan para raja dan kerabatnya banyak membangun tempat-tempat peristirahatan di kawasan ini, sehingga Thaif juga mendapat julukan Qaryah al-Mulk atau Desa Para Raja.

Menurut hemat penulis, ada beberapa catatan tentang kota thaif ini, sebagai berikut:

1). Di Thaif ada makam Sahabat Nabi, Abdullah Bin Abbas atau yg di kenal Ibnu Abbas, putra dari Abbas Bin Abdul Muthollib yang tak lain paman Nabi. Ini berarti Abdullah bin Abbas adalah sepupu Rasulullah SAW. Beliau seorang yang pintar, cerdas dan dikenal ahli tafsir. Maka tak heran, jika para sahabat menjadikannya sebagai rujukan hukum ketika terjadi perbedaan pendapat pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW.

2). Untuk mengenang perjuangan Nabi Muhammad. SAW dalam berjuang menyebar islam. Dimana, thaif menjadi saksi sejarah perjuangan islam. Thaif dalam sejarah awal perjuangan Rasulullah Muhammad SAW memang sangat pahit.
Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah (dua orang ini yang disegani oleh kaum kafir qurais), membuat mereka semakin berani mengganggu Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Nabi datang ke Thaif dengan harapan bisa diterima dan penduduknya memeluk Islam, namun realitanya berbeda. Saat Rasulullah ingin mencari suaka ke thaif, yang didapat bukannya perlindungan, melainkan hinaan, cacian, bahkan lemparan batu.
Penduduk thaif yang di kenal dengan “Bani Tsaqif” melempari Rasulullah SAW, sehingga kakinya terluka. Demikian juga Zaid bin Haritsah (sahabat yang menemani Nabi) juga kepalanya terluka akibat terkena lemparan batu. Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah.
Saat Nabi terluka dalam lindungan Zaid, beliau berkata: lalu aku angkat kepalaku, dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“
“Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “ Wahai Muhammad! Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Tuhan-Mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”Namun Rasulullah melarangnya lalu berkata: “tidak, justru aku ingin semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Dan betul, anak cucu kaum thaif ini menjadi pemeluk Islam hingaa saat ini.

3). Ada Pohon Zaqqum yang tumbuh di antara perbukitan di thaif. Jika diperhatikan pohon yang ditumbuhi duri-duri yang besar dan tajam ini adalah pohon yang disebut dalam alqur’an surah Al Waqi’ah ayat 52-56 tentang keberadaan Pohon Zaqqum. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa para penghuni neraka kelak akan diberikan makanan dari Pohon Zaqqum yang pahit dan berduri ini.

4). Ada salah satu riwayat yang menyatakan bahwa pada saat Nabi Sedang Shalat malam dalam perjalanan pulang dari Thaif ke Makkah, ada kumpulan Jin yang melihat dan mendengarkan bacaan Qur’an Nabi dalam Shalat.
Pada tengah malam, Nabi SAW bangun dan menunaikan shalat. Pada saat itu, ada tujuh Jin di sekitarnya dan mendengar ayat Al-Quran yang dibacakan Rasulullah. Selesai shalat, semua jin itu kembali kepada kaumnya dan menyampaikan apa yang didengarnya. Kisah jin ini diceritakan Allah di dalam Al-Quran:

“Dan (ingatlah) peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika Kami menghalau satu rombongan jin datang kepadamu (wahai Muhammad) untuk mendengarkan Al-Quran; setelah mereka menghadiri bacaannya, berkatalah (setengahnya kepada yang lain): “Diamlah kamu dengan setengah-bulat ingatan untuk mendengarnya!” Kemudian setelah selesai membaca itu, kembalilah mereka kepada kaumnya (menyiarkan ajaran Al-Quran itu dengan) memberi peringatan dan amaran.
Mereka berkata: “Wahai kalian kami! Sesungguhnya kami telah mendengar Kitab (Al-Quran) yang diturunkan (oleh Allah) sesudah Nabi Musa, yang menegaskan kebenaran Kitab-kitab Suci yang terdahulunya, lagi-lagi, membimbing kepada kebenaran (tauhid) dan ke jalan yang lurus (agama Islam).”(QS. Al Ahqaf 46:29-30)

5). Kota Thaif dekat dengan Qabilah/Suku Bani Sa’ad, yaitu suku tempat tinggalnya Halimatus Sa’diyah, seorang perempuan yang menyusui Nabi Muhammad SAW saat kecil.

Selain lima hal diatas, di Thaif juga ada kereta gantung, ada perkebunan, ada bibit parfum dan minyak wangi, sembari menikmati indahnya perjalanan berliku dan pemandangan indah nan hijau di tengah gurun padang pasir, ada juga ternak unta serta pulangnya bisa mengambil miqot untuk niat umroh dr Qarnul Manazil.

Selamat berkunjung ke kota Tha’if.

Salam rindu dari Makkah