Opini

Dari Seremonial ke Substantif: Bersatu dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi Pasca-Pelantikan PCNU Pamekasan


Oleh: Ach. Khoiri*


Makna “Bersatu dalam Khidmah” Pasca-Pelantikan
Setiap pergantian kepemimpinan organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi momen yang dinanti. Bukan hanya karena prosesi pelantikannya yang khas dengan doa dan sanjungan kepada para kiai, tetapi juga karena harapan besar yang disandang para pengurus baru. Begitu pula dengan pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan masa khidmat 2026-2031 Di tengah hiruk-pikuk agenda seremonial yang penuh dengan tradisi dan kebersamaan, ada satu pesan penting yang patut kita renungkan bersama: jangan biarkan pelantikan hanya berhenti sebagai seremoni pergantian jabatan.

Pelantikan PCNU Pamekasan harus dimaknai sebagai momentum untuk merekatkan soliditas organisasi dari level cabang hingga ke anak ranting. Frasa “Bersatu dalam Khidmah” (di bawah naungan tenda persatuan) bukan sekadar slogan indah yang terpampang di spanduk. Ia adalah pengingat bahwa NU adalah rumah besar yang menaungi seluruh warga Nahdliyin se-Pamekasan, tanpa memandang latar belakang ekonomi, politik, atau sosial. Namun, persatuan yang hanya dirayakan dengan tepuk tangan dan jamuan makan bersama akan sirna jika tidak diterjemahkan ke dalam program-program nyata yang menyentuh kebutuhan dasar warga Nahdliyin.

Di sinilah tantangan terbesar PCNU Pamekasan berada: bagaimana menggeser orientasi dari sekadar event-oriented (orientasi acara) menjadi process-oriented (orientasi proses) yang berdampak. Yang paling mendesak saat ini adalah program ekonomi. Karena seberapa kokoh pun sebuah organisasi, jika warga Nahdliyin hidup dalam kesulitan ekonomi, maka “khidmah” itu akan mudah roboh diterpa angin krisis. PCNU Pamekasan memiliki panggilan sejarah untuk membuktikan bahwa mereka adalah pelayan umat.

Problem Ekonomi Warga Nahdliyin Pamekasan: Antara Potensi dan Realitas
Pamekasan, sebagai salah satu wilayah di Pulau Madura, memiliki karunia alam yang melimpah. Lahan pertanian yang subur di bidang tanaman padi dan tembakau, potensi peternakan sapi yang menjadi ikon daerah, serta geliat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kerajinan dan kuliner seharusnya menjadi sumber kesejahteraan warga Nahdliyin. Namun, realitas di lapangan masih jauh dari harapan. Banyak warga Nahdliyin yang justru hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.

Identifikasi sederhana menunjukkan bahwa potensi lokal belum tergarap secara optimal. Petani seringkali terjebak pada sistem bagi hasil yang tidak adil, peternak kesulitan mendapatkan pakan berkualitas dengan harga murah, dan pelaku UMKM terbatas pada pemasaran yang sempit. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar dari mereka adalah warga Nahdliyin yang setiap evan membanjiri pengajian di acara Cabang, MWC dan Ranting NU, tetapi tidak mendapatkan dampak langsung dari keberadaan organisasi besar yang mereka bela.

Akar masalahnya jelas: lemahnya akses permodalan dan minimnya literasi manajemen usaha. Warga Nahdlyin yang menjadi pengusaha seringkali dianggap ribet atau menakutkan karena faktor kesulitan untuk berkolaborasi. Sementara itu, lembaga keuangan mikro berbasis komunitas masih berjalan sendiri tanpa payung dan pendampingan yang kuat. Akibatnya, ketika warga ingin mengembangkan usaha, mereka lebih memilih rentenir dengan bunga selangit daripada mencari solusi terstruktur. Di sinilah PCNU Pamekasan harus hadir dengan membawa langkah konkret menjadi jembatan antara potensi besar dan realitas pahit yang selama ini dihadapi warga Nahdliyin.

Strategi Penguatan Ekonomi Pasca-Pelantikan: Dari Wacana ke Aksi
Jika pelantikan hanya dihabiskan untuk foto bersama dan pidato panjang tanpa rencana aksi, maka itu adalah pengkhianatan terhadap amanah. PCNU Pamekasan menunjukkan arah yang berbeda. Pasca-pelantikan, mereka perlu segera bergerak mengambil peran sebagai fasilitator utama dalam pengembangan ekonomi baik berbasis komunitas maupun individu. Model ini bukanlah hal baru di NU, tetapi eksekusinya yang seringkali tersendat. Perekonomian warga Nahdliyin harus dihidupkan kembali bukan hanya untuk kepentingan internal, tetapi sebagai motor penggerak ekonomi warga Nahdliyin pada umumnya.

Lebih dari itu, PCNU Pamekasan memiliki peluang besar untuk menjalin kolaborasi strategis dengan pengusaha-pengusaha yang kini semakin tumbuh. Bayangkan jika setiap pengajian akbar atau pertemuan rutin PCNU juga diisi dengan sosialisasi produk-produk yang dimiliki pengusaha yang ramah dan mudah diakses. Tidak perlu ribet dan cukup dengan kelompok dan pendampingan. Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga krusial, misalnya dalam program pelatihan kewirausahaan bagi pengurus ranting atau bantuan alat produksi bagi UMKM binaan PCNU.

Yang menggembirakan, beberapa indikasi awal menunjukkan adanya komitmen dari PCNU Pamekasan untuk tidak sekadar menjadi “penonton” dalam program-program dinas. Mereka ingin menjadi mitra aktif. Ini adalah langkah maju. Dari wacana di atas meja, kini saatnya turun ke lapangan. Membuka loket-loket pengaduan ekonomi warga, membentuk tim percepatan akses permodalan, dan menghidupkan kembali lembaga ekonomi seperti Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) dengan target yang terukur. Itulah wujud nyata dari transisi seremonial ke substantif.

Sinergi Struktural dan Kultural: Menggerakkan Basis Akar Rumput
Strategi secanggih apa pun tidak akan berhasil jika hanya berputar di level cabang. Keberhasilan ekonomi warga Nahdliyin di Pamekasan ditentukan oleh seberapa jauh program itu mengalir hingga ke Tiga Belasa Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), bahkan hingga ke Pengurus Ranting-ranting. PCNU harus sadar bahwa struktur terbawah itulah yang paling memahami persoalan riil warganya. Seorang ketua ranting tentu lebih tahu siapa warganya yang butuh modal, misalkan untuk berjualan pecel atau siapa peternak yang sapinya sedang sakit.

Oleh karena itu, optimalisasi peran MWCNU dan Ranting NU se-Pamekasan sebagai garda terdepan implementasi program ekonomi menjadi keharusan. PCNU Pamekasan perlu mendorong setiap MWCNU untuk membuat peta potensi ekonomi wilayahnya. Jangan seragam, karena kecamatan Tlanakan berbeda dengan kecamatan Galis. Ada yang agraris, ada yang maritim. Pendekatan berbasis kearifan lokal ini akan membuat program lebih efektif.

Selain pendekatan struktural, NU memiliki keunggulan kultural yang tidak dimiliki organisasi lain: jaringan kiai dan pengajian. Tidak ada yang lebih didengar di Madura selain fatwa dan arahan dari seorang kiai. PCNU Pamekasan harus cerdik memanfaatkan forum-forum pengajian, majelis taklim, dan haul untuk menyisipkan edukasi literasi ekonomi. Kiai bisa menjadi “influencer” terbaik untuk mengkampanyekan gerakan ekonomi bangkit, bahaya rentenir, dan pentingnya berbisnis halal. Ketika seorang kiai mengatakan bahwa “Ekonomi NU berkah”, maka warga akan berbondong-bondong masuk. Sinergi struktural (formal) dan kultural (tradisional) ini adalah resep ampuh yang hanya dimiliki NU.

Indikator Keberhasilan Sederhana: Mengukur Dampak, Bukan Hanya Kegiatan
Kita sering terjebak pada euforia kuantitas: berapa kali rapat diadakan, berapa banyak spanduk dipasang, atau berapa kali PCNU menggelar pelatihan. Padahal, itu semua belum tentu menyentuh kesejahteraan warga. Maka, PCNU Pamekasan perlu mendefinisikan ulang apa itu keberhasilan. Tolok ukurnya harus sederhana, nyata, dan bisa dirasakan. Pertama, bertambahnya jumlah usaha baru yang dimiliki oleh warga Nahdliyin; kedua, mudahnya akses permodalan bagi warga yang tergabung dalam kelompok binaan PCNU; ketiga, terbukanya lapangan kerja lokal melalui inisiatif yang difasilitasi PCNU, seperti unit usaha bersama atau koperasi serba usaha.

Misalnya, jika pasca-pelantikan enam bulan ke depan, PCNU bisa melaporkan bahwa 50 pedagang pasar tradisional mendapatkan bantuan modal tanpa riba melalui pengusaha-pengusaha, atau 100 pengusaha tembakau berhasil menjual rokoknya dengan harga lebih baik karena dibantu akses pasar, itu adalah capaian yang luar biasa. Angka-angka kecil tapi riil lebih bermakna daripada proyek raksasa yang hanya tinggal di kertas.

Karena itu, pentingnya pelaporan berkala yang transparan dari PCNU ke konstituen tidak bisa ditawar. Bisa dalam bentuk buletin, media sosial, atau laporan dalam pengajian rutin. Publik perlu tahu: dana di mana, program apa yang berjalan, dan apa hambatannya. Transparansi akan membangun kepercayaan, dan kepercayaan adalah modal utama untuk menggerakkan gotong royong ekonomi warga. Ini yang membedakan organisasi modern yang akuntabel dengan organisasi tradisional yang tertutup.

Pelantikan Sebagai Titik Tolak Transformasi Ekonomi
Pelantikan PCNU Pamekasan bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari pertanggungjawaban terberat. Seluruh elemen, mulai dari rais syuriah, ketua tanfidziah, hingga pengurus harian, kini memiliki beban moral untuk mengubah wajah NU Pamekasan dari organisasi yang gemar seremonial menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang disegani.

“Bersatu dalam Khidmah” harus diwujudkan dalam gotong royong mengangkat derajat ekonomi warga. “Berdaya dalam Ekonomi” bukanlah mimpi jika ada kemauan untuk kolaborasi, inovasi, dan kerja keras. Kami, sebagai bagian dari masyarakat, menaruh harapan besar kepada PCNU Pamekasan. Jangan sampai pelantikan berlalu begitu saja, meninggalkan warga yang tetap merana dengan potensi yang tak terjamah. Mulai besok, buka program, salurkan bantuan, jalin komunitas permodalan, dan gerakkan ranting seluruh Pamekasan. Inilah saatnya membuktikan bahwa NU adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, bahkan dalam urusan ekonomi sekalipun.

Selamat bekerja untuk PCNU Pamekasan. Rakyat kecil menanti aksi nyata.

Wallahu a`lam bi al-shawab.

Semoga berdampak


* Nahdliyin Tlanakan