Opini

Hardiknas: Menguatkan Sains Berkeadaban dari Pesantren dan Budaya Madura

Oleh: Dr. Agus Budiyono, M.Pd.*


Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni. Ia perlu menjadi ruang untuk membaca kembali arah pendidikan kita. Bagi Pamekasan, momentum Hardiknas terasa semakin penting, karena daerah ini telah lama dikenal sebagai kabupaten pendidikan, dengan kekuatan sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, dan tradisi belajar masyarakat yang cukup kuat. Namun, predikat sebagai kabupaten pendidikan tidak cukup hanya ditopang oleh banyaknya lembaga pendidikan. Jumlah sekolah, madrasah, dan pesantren tentu menjadi modal besar. Tetapi pendidikan yang kuat tidak hanya diukur dari banyaknya bangunan, kelas, dan institusi. Pendidikan harus mampu melahirkan arah, gagasan, dan kontribusi yang khas bagi masyarakat.

Dalam konteks Pamekasan dan Madura, salah satu arah yang layak diperjuangkan adalah pendidikan sains berkeadaban. Yang dimaksud dengan sains berkeadaban adalah pendidikan sains yang tidak hanya mengajarkan konsep, rumus, dan teori, tetapi juga menumbuhkan adab, nilai keislaman, kepedulian terhadap lingkungan, serta penghargaan terhadap budaya lokal. Selama ini, sains sering terasa jauh dari kehidupan peserta didik. Fisika, biologi, dan ilmu pengetahuan alam kerap dipahami sebagai pelajaran yang sulit, penuh hafalan, dan hanya hidup di ruang kelas atau laboratorium. Padahal, sains sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia hadir dalam gerak tubuh, udara, cahaya, air, tanah, panas, energi, pertanian, bangunan, lingkungan, bahkan dalam aktivitas sehari-hari santri di pesantren.

Pesantren dan budaya Madura sebenarnya menyimpan banyak pintu masuk untuk belajar sains. Dalam kehidupan pesantren, peserta didik dapat belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kebersihan, gerak, kesehatan, lingkungan, dan keteraturan hidup. Dalam budaya Madura, peserta didik dapat belajar tentang rumah tradisional, pola permukiman, sirkulasi udara, pencahayaan, pertanian, laut, cuaca, dan hubungan manusia dengan alam. Karena itu, pesantren dan budaya tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari sains. Justru keduanya dapat menjadi ruang yang membuat sains lebih hidup, dekat, dan bermakna. Melalui pesantren, sains dapat diajarkan dengan ruh adab dan nilai. Melalui budaya Madura, sains dapat dikenalkan melalui pengalaman nyata masyarakat.

Pendidikan sains berkeadaban juga tidak bermaksud mencampuradukkan agama, budaya, dan ilmu secara sembarangan. Integrasi yang dimaksud adalah menghadirkan sains sebagai jalan untuk memahami ciptaan Allah, membaca tanda-tanda alam, menyelesaikan persoalan kehidupan, dan menghadirkan kemaslahatan. Dengan cara ini, sains tidak menjadi ilmu yang kering dari nilai, dan agama tidak dipahami secara sempit sebagai sesuatu yang jauh dari kerja-kerja pengetahuan. Pamekasan memiliki peluang besar untuk mengembangkan gagasan ini. Sebagai daerah dengan tradisi pesantren yang kuat, jejaring pendidikan Ma’arif, sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi, Pamekasan dapat menjadi ruang tumbuhnya model pendidikan sains yang khas: sains yang berakar pada pesantren, berpijak pada budaya Madura, dan dijiwai nilai-nilai Islam.

Beberapa riset pendidikan sains berbasis pesantren dan budaya lokal telah mulai menunjukkan arah tersebut. Ada kajian tentang pembelajaran fisika berbasis nilai Islam di pesantren, kemampuan pemecahan masalah fisika siswa pesantren, argumentasi ilmiah dalam pembelajaran fisika, konsep torsi dalam aktivitas keseharian santri, hingga konsep fisika dalam budaya Tanean Lanjhang. Riset-riset ini memberi pesan penting bahwa Pamekasan dan Madura memiliki kekayaan lokal yang dapat menjadi sumber belajar sains. Tentu, riset semacam ini tidak boleh berhenti sebagai artikel jurnal atau laporan akademik. Ia perlu turun menjadi bahan ajar, modul pembelajaran, pelatihan guru, kegiatan siswa, program pengabdian, dan gerakan literasi sains di sekolah, madrasah, serta pesantren. Di sinilah kolaborasi menjadi penting. Guru, kiai, dosen, mahasiswa, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu bergerak bersama.

LP Ma’arif NU, madrasah, sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi dapat menjadi simpul penting dalam gerakan ini. Pendidikan sains berkeadaban membutuhkan ruang penerapan yang dekat dengan peserta didik. Sekolah dan madrasah dapat menjadi tempat pembelajaran, pesantren menjadi basis nilai dan adab, perguruan tinggi menjadi penguat riset dan inovasi, sementara masyarakat menjadi ruang tempat ilmu itu diuji manfaatnya. Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi titik berangkat untuk memperkuat arah tersebut. Pamekasan tidak cukup hanya dikenal sebagai kabupaten pendidikan. Pamekasan perlu dikenal sebagai daerah yang mampu menawarkan gagasan pendidikan yang khas dan berdampak. Dari pesantren dan budaya Madura, kita dapat menguatkan pendidikan sains yang lebih membumi. Sains yang tidak menjauhkan anak dari agama dan budayanya. Sains yang mengasah nalar, menjaga adab, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan kemaslahatan. Inilah wajah pendidikan yang layak diperjuangkan: pendidikan sains berkeadaban dari Pamekasan untuk masa depan Madura, bahkan untuk Indonesia.


*Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Islam Madura; Pengurus LP Ma’arif NU PCNU Pamekasan