PAMEKASAN – Dalam ajaran agama hati menjadi sentral yang menentukan kepribadian seorang muslim. Hati yang “hidup” akan menjadikan muslim yang baik. Sebaliknya, hati yang “mati” akan menjadikan pribadi yang buruk. Hati akan “mati” jika tidak “disiram” melalui zikir dan sering satu majelis dengan para ulama. Bahkan, orang yang jauh dengan ulama hatinya akan “mati”.
Begitu pesan Ust. Wafiq pada pelaksanaan lailatul ijtima’ yang dilaksanakan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Larangan Luar di Masjid Nurul Huda Buddagan II, Larangan Luar, Larangan, Pamekasan, Selasa malam (06/06/2023).
Duduk bersama ulama, kata Ketua PRNU Desa Larangan Luar itu, merupakan pesan di antara tujuh amalan yang ditekankan oleh malaikat Jibril kepada umat Muhammad.
“Dalam kitab Washiyyat al-Musthafa, malaikat Jibril mengharapkan agar manusia menjaga tujuh hal: salat lima waktu beserta imam, duduk bersama ulama, membesuk orang sakit, mengantarkan janazah, memberi makanan dan minuman terhadap fakir miskin, mendamaikan dua orang yang sedang bersengketa, menghormati tetangga dan menghormati anak yatim. Semoga kita para nahdliyyin, khusunya masyarakat Desa Larangan Luar bisa menjadi orang dengan tujuh kriteria tersebut,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ust. Wafiq menyampaikan, selain bertujuan menghidupkan organisasi, kegiatan rutin lailatul ijtima’ tersebut merupakan salah satu upaya menghidupkan hati, serta merawat warisan para ulama agar hati tetap hidup dan subur.
“Kegiatan ini tidak ada tujuan lain selain ngopeni atau merawat peninggalan para ulama yaitu organisasi NU itu sendiri serta untuk terus menyirami hati kita agar tidak kering. Ibarat lahan, tanaman akan mati jika tidak disiram. Begitu juga hati, hati akan mati jika tidak disiram,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ust. Syari’in mengajak hadirin agar memperkokoh tiga benteng umat Islam.
“Di dalam kitab Tanbih al-Ghafiliin disebutkan bahwa bentengnya umat Islam ada tiga: pertama, masjid. Kita tahu masjid adalah baitullah atau rumah Allah. Bahkan semisal ada kegiatan salat berjemaah di luar masjid yang jemaahnya lebih banyak dan berjemaah di masjid lebih sedikit jamaahnya, lebih utama di masjid; kedua, dzikrullah. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman: ‘Aku malu menyiksa hambaku yang selalu berzikir kepada-Ku’,” papar Ust. Syari’in.
Selain itu, benteng umat Islam ialah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Mengutip sebuah hadis qudsi, Rais PRNU Desa Larangan Luar itu mengatakan, membaca Al-Qur’an sama halnya dengan bercakap-cakap dengan Allah.
“Barang siapa yang ingin bercakap-cakap dengan Allah, maka perbanyaklah membaca Al-Qur’an,” pungkasnya.
Kontributor: Bukhori
Editor: Redaktur

