NEWS

Kiai Marzuki: “Ayo Kita Bertekad NU Sampai Mati”

PROBOLINGGO — Nahdlatul Ulama (NU) menjadi organisasi penetu keberlangsungan agama Islam. Jika NU bubar, maka yang lain akan bubar; jika NU habis, maka yang lain juga akan habis. Hal ini menjadi pembuka amanat Ketua PWNU Jawa Timur, KH. Marzuki Mustamar, pada acara Apel Kader dan Ijazah Kubro, Sabtu (30/11/2019) di Pantai Bohay, Probolinggo, Jawa Timur.

Menurut alumni Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono ini, jika yang dimaksud masa depan bagi agama Islam, sebagaimana diketahui, banyak gerakan-gerakan diintervensi oleh kekuatan di luar Islam yang diinisiasisi negara luar guna memecah belah Islam: aliran kebatinan diinisiasi Negara Belanda, Ahmadiyah diinisiasi Ingggris yang bertujuan memecah muslim India ketika itu; liberalisme inisiatornya Stephen Hawking Amerika; dan Syiah diinisiasi Abdullah bin Saba’, tokoh Yahudi.

“Wahabi suka tabdi’ (membidahkan. Red), suka takfir (mengafirkan. Red.), jihadi, suka membidahkan orang lain: wiridan bidah, ciri wahabi; pakai qunut bidah, ciri wahabi; doa bersama bidah, ciri wahabi. Lalu mengkafirkan orang lain. Setelah itu mereka jihad, membunuh sesama muslim dan kata mereka itu halal darahnya,” jelasnya.

Karakteristik Wahabi itu terinspirasi oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi, murid hasil didikan mata-mata Inggris, orientalis Inggris. Gerakan di luar Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), tegas Kiai Marzuki, ada campur tangan dan intervensi kelompok di luar Islam. Jika mereka dibiarkan berkembang, maka Islam yang murni akan habis.

Penulis kitab “Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat” itu melanjutkan, masa depan Islam murni tidak ada campur tangan kelompok lain. Dalam konteks Nusantara, Islam yang dimaksudkan ialah NU. Dengan demikian, jika ada yang mengatakan NU liberal, radikal, Syiah, bisa dipastikan itu fitnah.

“Kurikulum pendidikan NU, di manapun, dari Sabang sampai Merauke, dari masanya Mbah Hasyim sampai sekarang, tetap sama, tidak ada yang berubah. Jika ada yang mengakatan NU berubah, maka itu fitnah. Seperti Pesantren Lirboyo, Ploso, Lasem, Sarang, Sidogiri, Bangkalan, dan lainya tidak ada yang berubah. Tetap memakai akidah Asy’ariah tetap, memakai aqaid khamsin. Tidak ada kitab liberal dikaji di pondok. Ayo kita bertekad NU sampai mati,” tegas Kiai Marzuki.

Pengasuh Pondok Pesantren Sabilur Rosyad itu menyebutkan, negara-negara Timur Tengah yang dikuasai paham Wahabi, seperti: Kuwait, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab tidak berkerja sama dengan Indonesia, Malaysia atau sesama negara muslim. Justru sebaliknya, negara-negara tersebut bekerjasama dengan Amerika, Inggris, Israel, untuk menghantam muslim.

“Contoh di Yaman. Koalisi Saudi menghajar Yaman. Banyak korban terbunuh. Dia bekerja sama dengan Israel, tidak murni perjuangan Islam, tidak murni antar Islam, namun ada kerja sama dengan di luar Islam. Komitmen mereka tidak ada menjaga keutuhan Ahlussunnah, mereka mengingkari sunah,” tangkasnya.


Reporter: Zainal
Editor: Ahnu