NEWS

Kiai Muddatstsir Masuk Jajaran Syuriah PBNU, Ketua PCNU Pamekasan: “Sangat Layak”

PAMEKASAN — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Rabu siang (12/01/2022), di Kantor PBNU Lantai 8, mengumumkan susunan pengurus masa khidmat 2022-2027. Yang menjadi perhatian warga NU Pamekasan ialah munculnya nama KH. Muhammad Muddatstsir Badruddin di jajaran Syuriyah, di antara nama-nama wakil Rais ‘Aam, KH. Miftachul Akhyar.

Warga NU Pamekasan maklum, sosok ulama sepuh kharismatik tersebut saat ini menjabat Mustasyar di struktur organisasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pamekasan. Selain itu, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum Panyeppen, Potoan Laok, Palengaan, Pamekasan, ini juga masih tercatat aktif di jajaran Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

KH. Taufik Hasyim, Ketua PCNU Pamekasan, kepada Media NU Pamekasan mengatakan, munculnya nama Kiai Muddatstsir sebagai Rais Syuriah pada “Surat Keputusan PBNU tentang Pengesahan Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmat 2022-2027” bernomer 01/A.II.04/01/2022 tersebut bukanlah suatu hal yang mengherankan. Pasalnya, Kiai Taufik menilai Kiai Muddatstsir sangat layak berada di jajaran Syuriyah PBNU.

“Dari segi keilmuan, beliau telah diakui kealimannya oleh masyarakat Jawa Timur. Beliau juga tokoh ulama yang memiliki sepak terjang luar biasa. Bahkan di era tahun 90-an, pemikiran beliau sudah sangat maju dan melampaui zamannya. Saat di Madura belum ada pondok pesantren yang memliki lembaga SMP dan SMA, beliau sudah membuka SMP dan SMA lebih dulu. Saat itu, banyak pihak yang mengecam beliau. Tapi, nyatanya orang-orang yang mengecam beliau sekarang justru membuka SMP dan SMA,” tutur Kiai Taufik melalui saluran seluler, Rabu (12/01/2022).

Selain itu, di mata Kiai Taufik, besan Rais ‘Aam PBNU ini juga memiliki relasi yang luas dan kuat. Langkah-langkah Kiai Muddatstsir, lanjut Kiai Taufik, juga lebih maju dibandingkan ulama-ulama Madura. Saat ulama-ulama Madura belum pernah menginjakkan kaki di Istana Negara, Kiai Mudatsir lebih dulu diundang berkunjung ke kantor presiden itu. Saat itu Kiai Muddatstsir datang menemui Presiden Soeharto.

“Saat ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Red.) baru didirikan, Kiai Mudatsir sudah tergabung di dalamnya. Karena itu, tidak heran jika Kiai Muddatstsir sudah kenal dekat dengan beberapa tokoh nasional, seperti Prof. Muhammad Nuh, Prof. Imam Suprayogo dan Prof. Nur Syam,” imbuh pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Sumber Anom, Angsanah, Palengaan, Pamekasan, ini.

Kiai Taufik melanjutkan, sebenarnya Kiai Muddatstsir tidak berkenan berada di jajaran Syuriyah PBNU. Pasalnya, Kiai yang dikenal warak tersebut kesehatannya sudah tidak stabil. Namun karena Kiai Miftachul Akhyar terus meminta serta beberapa pertimbangan, maka Kiai Muddatstsir menerima permintaan tersebut.

“Beliau pernah menyampaikan kepada saya, bahwa beliau diminta langsung oleh Kiai Miftahul Akhyar untuk masuk PBNU,” Kiai Taufik memungkasi.


Reporter: Ahnu
Editor: Redaktur