PAMEKASAN – Memperingati maulid nabi sudah menjadi tradisi sejak awal-awal penyebaran Islam ke Indonesia. Dalam hal ini, para wali penyebar agama Islam tidak fokus pada ajaran, akan tetapi, mendesain tradisi tersebut dengan budaya lokal. Hal ini disampaikan oleh KH Syaifuddin Syam atau yang akrab disapa Kiai Syai saat menyampaikan tausiah pada acara pengajian akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad dan istigasah kemanusiaan untuk Palestina, Kamis malam (09/11/2023), di halaman Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Palengaan, Kompleks Pondok Pesantren (PP) Miftahul Ulum Kebun Baru, Kacok, Palengaan, Pamekasan.
Agar menumbuhkan khidmat, lanjut Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pamekasan itu, para wali menyebar agama Islam disertai rasa empati, dan kasih sayang, tanpa adanya pemberontakan, sehingga sampai saat ini dirasa damai, meski banyak perbedaan.
Baca juga: Maulid Nabi Dan Istigasah Untuk Palestina, Ribuan Nahdliyin Sesaki Halaman Kantor MWCNU Palengaan
“NU mempertahankan budaya para wali terdahulu. Jika saja di Indonesia ini tidak ada NU, maka tidak ada peringatan maulid nabi, bahkan maulid juga dianggap haram,” ucap alumnus PP Miftahul Ulum Bettet, Pamekasan itu.
Keberhasilan dakwah para wali tersebut, menjadi pedoman bagi NU. Sehingga menurut Kiai Syai ada tiga poin konsep dakwah yang menjadi pedoman bagi para dai NU: yang pertama, al-tawassuth (moderat); yang kedua, al-tawazun (berimbang, harmonis); dan yang ketiga, al-tasamuh (toleransi).
Baca juga: Kiai Zainul Hasan Sebut Warga NU Pamekasan Dapat Berkah Muassis NU Asal Palengaan
Lebih lanjut, pengasuh PP Sumber Nangka, Duko Timur, Larangan, Pamekasan itu mengajak nahdliyin yang hadir agar selalu ikhlas mengabdi di NU. Ikhlas yang betul-betul nyata, tidak hanya sekadar kata.
“Mengabdi di NU itu harus ikhlas, meski [ikhlas itu] susahnya seperti mencari semut hitam di atas batu hitam di tengah gelapnya malam,” ujarnya Kiai Syai mengutip perkataan Imam al-Ghazali.
Kiai Syai menjelaskan, ikhlash al-khawash merupakan tingkatkan ikhlas paling tinggi, yang tidak mengharap apapun, kecuali rida Allah. Sedangkan ikhlas al-‘awam, masih mengharap balasan amal baik yang diperbuat.
Kontributor: Uusliyah (MNU-VII.10-006)
Editor: Ahnu

