Opini

Lima Makna Filosofis Santri

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring Kemendikbud, ada dua makna santri. Pertama, orang yang mendalami agama Islam. Kedua, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh. Di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU), istilah santri biasanya dinisbatkan kepada mereka yang sedang atau pernah menimba ilmu agama Islam di pondok pesantren.

Drs. KH Zainul Hasan, M.Ag., memiliki makna tersendiri tentang Santri. Menurut Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan itu, kata SANTRI jika ditulis menggunakan huruf Arab (سنتري) terdiri dari lima huruf. Yakni, sin (س), nun (ن), ta’ (ت), ra’ (ر), dan ya’ (ي). Masing-masing huruf itu memiliki makna filosofi tersendiri.

  1. Salikun ilal akhirah (سالك إلى الأخرة), orang yang menempuh kepada kehidupan akhirat. Artinya hidupnya selalu berorientasi pada akhirat atau memprioritaskan aspek-aspek spiritual-rohaniyah atau hubungan vertikal kepada Allah SWT (hablum minallah);
  2. Naibun anil masyaikh (نائب عن المشايخ ), pengganti masyaikh. Artinya siap menerima estafet kepemimpinan dan perjuangan guru, kiai dan ulama. Dalam konteks ini, maka harus ada kesamaan dengan gurunya, baik dalam bidang akidah (i’tiqadiyah),   ‘amaliyah,  pemikiran (fikrah), gerakan (harakah), dan semangat (ghiroh) perjuangan. Sedangkan ulama adalah penerus perjuangan para nabi;
  3. Taibun anidz dzunub (عن الذنوب تائب), bertaubat dari dosa. Artinya tidak merasa dirinya orang suci; ia menyadari banyak memiliki kelemahan dan kekurangan, namun juga berusaha insaf akan kekurangan itu dan bersedia untuk memperbaikinya;
  4. Raghibun fil khairat (راغب فى الخيرات), senang kepada kebaikan. Artinya berusaha dirinya selalu ada dalam jalan kebaikan. Ini berkaitan dengan hubungan horisontal sesama manusia (hablum minan nas). Tantangan kehidupan modern, misalnya, dihadapi dengan cara dan sikap yang bijak, berusaha menghindari hal-hal yang mencelakakan (mudarat) pada dirinya;
  5. Yarjus salamah fid dunnya wal akhirah (يرجو السلامة فى الدنيا والأخرة), mengharap keselamatan di dunia dan akhirat. Kehidupan dunia yang sementara hanyalah sebagai jembatan menuju kehidupan yang hakiki dan abadi di akhirat nanti. Untuk keselamatan itu, maka ia harus melangkah di jalan (agama) yang benar, mengikuti rambu-rambu jalan (syari’at) yang telah ditentukan,  jika melihat spion ke belakang (sejarah) hanyalah sewaktu-waktu demi untuk keselamatan, dan tentunya memperbanyak bekal (amal saleh) agar cukup sampai tiba di perjalanan dengan selamat.

Penulis: KH. Zainul Hasan, M.Ag. (Wakil Ketua PCNU Pamekasan