Oleh: Taufik Hasyim
Ada 4 hal yang perlu dipertahankan oleh NU menuju abad kedua, yaitu:
Pertama, NU lahir dari Pesantren dan harus kembali ke Pesantren. Maka tradisi NU adalah tradisi pesantren; dan jika bicara pesantren, maka tak lepas dari kiai hingga simbol kiai tak bisa lepas dr NU.
Kiai di pesantren memiliki kekuasaan mutlak yang tak terbatas, demikian juga di NU: Rais Syuriah selaku pimpinan tertinggi di NU memiliki ruang kebijakan yang besar, hingga saking besarnya kekuasaan Rais Syuriah, seorang calon Ketua Tanfidziah yang tidak disetujui Rais Syuriah, dia bisa gugur dari pencalonan.
Tradisi pesantren adalah tradisi salafus shalih, yaitu meyakini bahwa seorang ulama adalah pewaris para nabi yang diyakini selain memiliki mata lahir (penglihatan lahir) juga memiliki mata batin (‘ainul bashirah).
Tentu disini ulama yang dimaksud adalah ulama yang secara lahir punya kepribadian baik, santun, bijak, Istikamah, ucapannya mengandung kata-kata hikmah, konsisten, istikamah dalam bersikap, istikamah salat berjemaah, zikir malam, sikapnya menjadi uswah bagi umat, tidak suka main mata dengan penguasa dan (maaf) tidak bermain proyek.
Ulama yang demikian yang harus menjadi pimpinan di NU; dan kami yakin masih banyak ulama di NU yang seperti di atas serta berkat doa-doa para baliaulah NU bisa eksis hingga kini. Sebab, tidak bisa dibayangkan jika NU tidak dikendalikan oleh para ulama, tentu akan banyak benturan kepentingan di dalamnya dengan berbagai alasan. Kita tahu bahwa besarnya NU akan menjadi nilai tawar sendiri bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Namun selama NU menjadikan ulama sebagai pimpinan, insyaallah NU akan tetap eksis ila yaumil qiyamah.
Kedua, ikhlas dalam berkhidmat, menduduki jabatan (di semua tingkatan) di NU harus ditanamkan sikap ikhlas, sebab NU tidak menjanjikan jabatan, kehormatan atau materi semata, melainkan betul-betul berjuang karena Allah, berkhidmat li ‘izzil islam wal muslimin melalui wadah NU.
Sikap ikhlas perlu dimiliki oleh komponen NU, sebab NU yang menarik bagi yang punya kepentingan, apalagi banyak orang NU yang jadi pejabat penting, maka banyak pula orang “mendadak jadi NU”, atau tiba-tiba mendekat ke NU, atau tiba-tiba aktif di NU dan mengaku paling NU hingga merasa lebih NU ketimbang para kiai yang berpuluh tahun di NU, bahkan rela berseberangan dengan para kiai hanya demi kepentingan tersebut dan demi posisinya itu. Dalam momentum satu abad ini, mari benahi dan tata kembali niat kita untuk ikhlas berkhidmat di NU.
Sekali lagi, ikhlas perlu ditanamkan ke dalam lubuk hati sanubari. Sebab, jika tanpa keikhlasan masuk ke NU, dia akan kecewa jika tujuannya tidak tercapai.
Ketiga, jiwa santri harus melekat pada tiap diri warga NU. Sikap tawadu, rendah diri, dan manut pada kiai harus tetap dipertahankan. Hingga semboyan “Ikut kiai, patuh kiai, siap menjaga marwah kiai” tidak hanya menjadi jargon di mimbar-mimbar podium dan kursi-kursi pelatihan dan diskusi saja dengan retorika dan mulut manis, melainkan harus dilaksanakan dalam amaliah organisasi.
Manut kiai bukan hanya pada saat selera kepentingannya sama dengan kasokanah kiai, tapi apapun kebijakan kiai, selama untuk kebaikan organisasi, maka layak dipatuhi meskipun itu pahit.
Keempat, warga dan pengurus NU harus tetap melaksanakan amaliah sunah, seperti: puasa sunah, wirid, zikir malam, salat malam, salat rawatib, baca doa-doa, ratib, hizib dan istigasah harus terus diamalkan, sebab dengan tetap mengamalkan amalan-amalan itu merupakan doa seorang hamba untuk senantiasa memohon pada Allah agar diberi kemudahan, pertolongan, dan rida dari Allah SWT.
*Ketua PCNU Pamekasan

