Opini

Menyambut Satu Abad NU (Bagian 1)

Oleh: KH. Taufik Hasyim

Seperti informasi yang beredar luas di masyarakat, bahwa NU di Pamekasan berdiri tahun 1926, bersamaan dengan berdirinya NU di Surabaya, sebab KH Moh. Siroj bin KH Nashruddin (pendiri NU Pamekasan juga pendiri PP Miftahul Ulum Bettet) adalah teman seperjuangan KH Wahab Hasbullah waktu mondok di Makkah. Itu berarti NU di Pamekasan juga sudah berumur 100 tahun.

100 tahun bukan umur yang sebentar, melainkan umur yang panjang. Tidak banyak ormas yang bisa eksis dan berkembang hingga umur 100 tahun, namun NU di umur yang ke-100 malah semakin berkembang hingga ke luar negeri.

Salah satu sebab berdirinya NU adalah untuk menolak Wahabi yang saat itu berkembang di Makkah dan Madinah (yang dulu dikenal dengan Najd atau Hijaz), di mana saat runtuhnya Kerajaan Turki Utsmani di Turki tahun 1924, di Najd atau Hijaz berdirilah negara Kerajaan Arab Saudi oleh Abd Azis Al-Su’ud dengan paham Wahabi.

Saat paham Wahabi resmi menjadi mazhab kerajaan Arab Saudi, maka mazhab Aswaja mulai dilarang di Arab Saudi. Situs-situs peninggalan Rasulullah dan para sahabat dihancurkan, ziarah kubur dilarang, membaca Barzanji dilarang, bermazhab dilarang, mengadakan maulid Nabi dilarang, bahkan kerajaan Arab Saudi berencana membongkar makam Nabi yang ada di Madinah.

Saat itulah para kiai pesantren Nusantara khawatir jika sampai makam Nabi dibongkar. Maka para kiai ini membentuk tim yang dikenal dengan Komite Hijaz (dipimpin oleh KH Wahab Hasbullah). Tim ini bertugas untuk menemui Raja Abd Azis Al-Su’ud di Makkah guna menyampaikan aspirasi umat Islam Nusantara dengan usulannya sebagai berikut: 1). Meminta agar tradisi bermazhab diizinkan lagi di makkah dan Madinah; 2). Meminta Raja Arab Saudi untuk tidaj membongkar situs-situs sejarah peninggal Nabi dan para sahabat; 3). Meminta agar Raja Arab Saudi tidak membongkar makam Nabi di Madinah.

Dari ketiga usulan tersebut, hanya usulan nomer tiga yang dituruti oleh Raja Arab Saudi, yaitu raja siap untuk tidak membongkar makam Nabi yang ada di Madinah, sedangkan tuntutan pertama dan kedua tidak dituruti.

Mengutip apa yg disampaikan KH Marzuqi Mustamar, bahwa salah satu tujuan NU didirikan adalah untuk menolak dan membendung Wahabi yang saat itu ada di Arab.

Nah, bagaimana jika Wahabi itu ada di depan mata?

Sepanjang perjalannya selama 100 tahun, cobaan terus datang, hinaan, cacian, makian dan tuduhan-tuduhan tak berdasar terus ditujukan kepada NU, mulai NU dituduh PKI, sesat, liberal, syiah, pemecah belah umat. Padahal di masa PKI tahun 1965-1966, NU-lah yang paling merasakan keberingasan PKI. Saat itu kiai-kiai dan tokoh-tokoh NU diculik, dibunuh, disiksa, dibuang, namun anehnya malah NU yang dituduh PKI.

Sepanjang perjalanan bangsa, NU juga dikerdilkan, disingkirkan, diancam, hingga dipersekusi, meskipun NU ikut andil dalam mengusir penjajah dan membangun negeri ini.

Cobaan dan hinaan itu terus terjadi tiap hari, tiap jam, tiap menit dan terjadi sejak Awal NU masa KH Hasyim Asy’ary berdiri hingga masanya KH Said Aqil Siroj, cacian dan fitnah itu terus terjadi. Namun NU tetap sabar dan tidak pernah melawan, sebab karena kesabaran itulah, NU bisa eksis dan hadir di tengah-tengah umat dalam rangka ‘izzul islam wal muslimin serta turut menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dan keumatan berdakwah dengan santun, kalem, bijak dengan prinsip tasamuh, tawassuth dan tawazun.


*Ketua PCNU Pamekasan