Moh. Wahyudi*
Pendahuluan
Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dan salah satu yang paling berpengaruh di dunia Islam, memiliki posisi historis dan ideologis yang unik dalam membentuk wajah keislaman Indonesia. Lahir dari rahim tradisi pesantren dan kearifan lokal yang mengakar kuat di bumi Nusantara, NU membawa misi keagamaan yang inklusif, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Dalam perjalanannya, NU tidak hanya berperan sebagai institusi keagamaan yang mengawal doktrin Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah, tetapi juga sebagai kekuatan sosial-budaya yang berperan dalam menjaga kohesi bangsa, menanamkan nilai-nilai kebangsaan, serta menjawab tantangan zaman melalui pendekatan keislaman yang kontekstual.
Frasa “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” yang digaungkan dalam Muktamar NU ke-34 tahun 2021 di Lampung bukan hanya slogan seremonial, melainkan sebuah pernyataan teologis dan kultural tentang arah gerak NU di era kontemporer. “Merawat jagat” merujuk pada kesadaran ekoteologis dan tanggung jawab sosial yang melekat dalam Islam—merawat bumi, lingkungan, serta seluruh dimensi kehidupan sebagai bentuk ibadah. Sedangkan “Membangun peradaban” menekankan pentingnya kontribusi aktif NU dalam merancang masa depan umat manusia, baik melalui pendidikan, dakwah, kebudayaan, maupun politik kebangsaan yang beretika dan berkeadaban.
Dalam konteks Indonesia kontemporer yang diwarnai oleh krisis nilai, disrupsi teknologi, serta menguatnya polarisasi identitas, NU tampil sebagai penyeimbang sekaligus pengarah bagi arah moral bangsa. NU tidak terjebak dalam ekstremitas, tetapi mengedepankan jalan tengah (wasathiyyah) yang harmonis antara teks dan konteks, antara tradisi dan modernitas. Semangat perjuangan kultural NU mewujud dalam berbagai ekspresi sosial—dari forum Bahtsul Masa’il yang membahas problematika kekinian secara fiqhiyah, hingga keterlibatan aktif kader-kader NU dalam kegiatan sosial, lingkungan, literasi digital, dan penguatan ekonomi berbasis komunitas. Semua ini menegaskan bahwa NU tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga memperbaruinya secara kreatif dan bertanggung jawab.
Oleh karena itu, penting untuk memahami semangat perjuangan kultural NU secara utuh, tidak hanya dalam kerangka historis-teologis, tetapi juga dalam dinamika sosial-politik Indonesia masa kini. Artikel ini bertujuan untuk mengurai bagaimana NU melalui konsep “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” membumikan nilai-nilai Islam dalam konteks keindonesiaan secara kreatif, damai, dan membangun. Dengan pendekatan ini, NU tidak hanya menjadi benteng tradisi, tetapi juga mercusuar peradaban yang menunjukkan bahwa Islam mampu hadir sebagai solusi atas tantangan zaman, bukan sekadar sebagai simbol identitas. Ini adalah bentuk perjuangan berkelanjutan yang berakar kuat pada tanah, tetapi juga terbuka menatap cakrawala.
Nahdlatul Ulama dan Paradigma Kultural
NU sejak awal kelahirannya telah menunjukkan orientasi kultural yang khas. Didirikan oleh para kiai pesantren dengan latar belakang keilmuan tradisional, NU tidak dibangun sebagai gerakan politik kekuasaan, melainkan sebagai gerakan keagamaan yang menjadikan kebudayaan sebagai medium dakwah dan transformasi sosial. Dalam konstruksi pemikiran NU, agama dan budaya bukan dua entitas yang saling menyangkal, melainkan saling meneguhkan. Kebudayaan lokal dipandang sebagai lahan subur tempat Islam ditanamkan, bukan sebagai ancaman yang harus dihapuskan. Oleh sebab itu, NU tidak mengusung paham agama yang kaku, tetapi menawarkan pendekatan dakwah yang lentur, humanis, dan membumi.
Paradigma kultural NU termanifestasi dalam berbagai praktik sosial keagamaan yang telah berlangsung secara turun-temurun di masyarakat, seperti tradisi tahlilan, manaqiban, selamatan, haul, dan lain-lain. Meskipun praktik tersebut sering kali dipandang sebagai bidah oleh kelompok Islam transnasional, NU memaknainya sebagai bentuk internalisasi nilai-nilai Islam dalam ruang kultural Nusantara. Dalam pandangan NU, dakwah bukanlah proses pemaksaan, melainkan upaya membina dan mendampingi umat melalui pendekatan yang sejuk, akomodatif, dan transformatif. Itulah sebabnya dakwah NU cenderung menghindari retorika konfrontatif, dan lebih menekankan pendekatan edukatif serta persuasif.
Pendekatan kultural NU juga berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah yang memadukan dimensi syari’ah, akidah, dan tasawuf secara seimbang. Keberagamaan dalam perspektif NU tidak hanya menyangkut benar-salah secara hukum, tetapi juga mempertimbangkan aspek etika, estetika, dan adab (akhlak) dalam bermasyarakat. Dengan pendekatan ini, NU mampu menjadi simpul antara masa lalu, masa kini, dan masa depan tanpa tercerabut dari akar tradisinya. Inilah yang menjadikan NU sebagai kekuatan yang tidak hanya menjaga agama, tetapi juga menghidupkan kebudayaan, serta menjembatani dialog antara keislaman dan keindonesiaan.
Lebih jauh, paradigma kultural NU menunjukkan relevansi besar dalam menghadapi problematika kontemporer, seperti radikalisme agama, disintegrasi sosial, dan dehumanisasi akibat kemajuan teknologi yang tidak berimbang. Dalam konteks ini, NU hadir dengan kekayaan kulturalnya untuk menawarkan narasi Islam yang damai, toleran, dan membangun peradaban. NU tidak berusaha mengubah masyarakat secara revolusioner, melainkan melalui proses evolutif yang bertumpu pada pendekatan kultural dan spiritual. Maka dari itu, peran NU dalam merawat kearifan lokal adalah bagian integral dari upaya membangun peradaban Islam yang rahmatan lil-‘ālamīn di bumi Indonesia.
NU tidak mendefinisikan dirinya secara politis, tetapi lebih sebagai gerakan kultural. Paradigma ini berakar dari basis sosialnya pesantren, masyarakat desa, dan tradisi lokal yang menginternalisasi Islam dalam bentuk yang organik, bukan artifisial. Gerakan NU berakar dari pemahaman bahwa agama tidak berada di luar kebudayaan, tetapi justru menjadi ruh dari kebudayaan itu sendiri. Melalui pendekatan kultural, NU tidak memaksakan syari’at secara simbolik, tetapi memuliakan nilai-nilai luhur yang menjaga martabat manusia dan kemaslahatan umum. Hal ini tampak dalam praktik keagamaan yang lentur namun berbasis pada otoritas keilmuan klasik dan realitas sosial masyarakat.
Merawat Jagat: Teologi Ekologis dan Kemanusiaan Semesta
Frasa “Merawat Jagat” dalam khazanah pemikiran NU merupakan ekspresi dari kesadaran teologis dan kultural yang mendalam terhadap tanggung jawab manusia sebagai khalīfah fī al-arḍ (“wakil” Tuhan di bumi). Konsep ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan fisik, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan: bumi, manusia, makhluk lain, dan tatanan sosialnya. Dalam pandangan NU, merawat jagat adalah bagian dari ibadah, bentuk pengabdian spiritual yang lahir dari kasih sayang terhadap ciptaan dan keinginan untuk menjaga keseimbangan (tawāzun) yang telah ditetapkan oleh Allah. Seperti ditegaskan oleh Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf: “Merawat jagat adalah ekspresi nyata dari Islam rahmatan lil-‘ālamīn—merawat bumi, menjaga sesama, dan membangun harmoni semesta.”
Tradisi pesantren yang menjadi basis ideologis NU sejak awal telah mengajarkan pentingnya hubungan spiritual dan ekologis. Dalam teks klasik dan praksis kultural pesantren, ditemukan ajaran untuk tidak menyakiti hewan, menjaga kebersihan air, memelihara pepohonan, serta menggunakan sumber daya alam secara bijak. Prinsip ini bukan hanya etika ekologis, tetapi bagian dari tradisi keilmuan dan akhlak Islam yang dijaga oleh para kiai. KH. Sahal Mahfudh pernah menyatakan bahwa: “Agama dan lingkungan adalah dua wajah dari satu pengabdian kepada Tuhan.” Oleh karena itu, keislaman yang tidak ramah lingkungan, menurut NU, adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah keagamaan.
Komitmen NU terhadap pelestarian jagat tercermin dalam berbagai program konkret yang menyatukan nilai spiritual dan aksi sosial. Melalui lembaga seperti LPBINU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU), NU telah mengembangkan gerakan mitigasi bencana berbasis pesantren dan masyarakat. Selain itu, inisiatif seperti “Pesantren Hijau” dan pengelolaan wakaf produktif untuk konservasi menunjukkan bagaimana dakwah NU menjelma menjadi gerakan ekologis yang menyejahterakan. Semangat ini berakar dari prinsip al-maslahah al-‘āmmah (kemaslahatan umum), yang menjadi ruh dalam pendekatan fikih sosial ala NU.
Lebih jauh, “Merawat jagat” juga berarti menjaga tatanan masyarakat dari kerusakan moral, kebencian, dan konflik. Dalam konteks ini, jagat tidak hanya berarti alam fisik, tetapi juga jagat sosial dan spiritual yang mencakup relasi antarmanusia. NU percaya bahwa kemanusiaan tidak akan bangkit tanpa kedamaian, dan perdamaian tidak akan tercapai tanpa keadilan. Oleh sebab itu, agenda merawat jagat harus dimaknai sebagai upaya simultan untuk memelihara alam, membangun etika publik, dan merajut kembali tenun sosial bangsa yang terkoyak oleh radikalisme, materialisme, dan dekadensi moral.
Membangun Peradaban: Islam Nusantara sebagai Wacana dan Gerakan
Gagasan “Membangun Peradaban” dalam visi NU tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari dialektika panjang antara Islam dan kebudayaan Nusantara, antara teks suci dan konteks historis, antara wahyu dan kenyataan. Peradaban dalam konteks NU bukanlah ekspansi kekuasaan atau dominasi kebudayaan, melainkan hasil dari penanaman nilai-nilai Islam dalam tata kehidupan masyarakat secara gradual dan damai. NU meyakini bahwa Islam datang ke Nusantara bukan melalui pedang, tetapi melalui dakwah, akhlak, dan keteladanan para ulama dan wali.
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), salah satu tokoh utama NU yang paling visioner dalam memformulasikan Islam Nusantara sebagai gagasan besar peradaban, pernah menegaskan bahwa: “Islam datang ke Indonesia bukan untuk menggantikan budaya lokal, tetapi untuk memperkayanya.” Dalam pandangan Gus Dur, peradaban Islam tidak identik dengan homogenitas atau penyeragaman, melainkan justru terwujud dalam pengakuan terhadap keragaman sebagai rahmat. Islam Nusantara, dengan demikian, adalah ekspresi dari semangat keterbukaan, inklusivitas, dan penghargaan terhadap pluralitas, sekaligus sarana dakwah yang efektif dan berakar kuat di tengah masyarakat.
KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), seorang budayawan dan ulama kharismatik NU, memperkuat gagasan ini dengan menyatakan bahwa: “Islam yang datang ke Nusantara adalah Islam yang tidak merasa asing terhadap manusia dan kemanusiaan.” Peradaban, menurut Gus Mus, harus dibangun di atas dasar cinta dan kesadaran spiritual, bukan fanatisme. Di sinilah NU hadir bukan sebagai kekuatan politik semata, melainkan sebagai pemandu moral dan budaya yang memperkuat hubungan sosial dalam masyarakat. Melalui jalur pendidikan pesantren, kesenian rakyat, dan dakwah kultural, NU menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi pembentukan karakter bangsa.
Sementara itu, KH. Ma’ruf Amin, menyatakan dalam berbagai kesempatan bahwa: “NU harus terus menjadi garda depan dalam membangun peradaban Islam yang moderat dan toleran di tengah dunia yang penuh ketegangan.” Dalam perspektifnya, membangun peradaban adalah bentuk konkret dari dakwah bi al-ḥikmah, yakni mengajak umat kepada kebaikan dengan cara yang bijak, damai, dan menghargai konteks lokal. Oleh karena itu, NU mengedepankan pendekatan “Fikih Sosial” yang tidak hanya melihat teks-teks keagamaan secara normatif, tetapi juga secara responsif terhadap kebutuhan sosial masyarakat.
Melalui komitmen terhadap Islam Nusantara, NU menunjukkan bahwa membangun peradaban berarti menyatukan nilai-nilai langit dengan realitas bumi. Peradaban bukanlah bangunan material semata, tetapi ekosistem nilai yang menopang keadilan, keberlanjutan, dan keberagaman. Maka, membangun peradaban bagi NU tidak bisa dipisahkan dari agenda merawat jagat yaitu menjaga lingkungan, memelihara perdamaian, memperkuat etika publik, serta meneguhkan nilai-nilai keislaman yang ramah terhadap budaya lokal dan realitas global. Inilah warisan para ulama NU yang terus dikembangkan untuk menjawab tantangan zaman dengan ruh keislaman yang membebaskan dan memanusiakan.
Penutup
Frasa “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” bukanlah sekadar jargon seremonial Nahdlatul Ulama, melainkan sebuah ekspresi ideologis yang menggambarkan orientasi teologis, sosial, dan kultural organisasi ini dalam merespons tantangan zaman. Ia merupakan manifestasi dari kesadaran NU terhadap dua tanggung jawab besar yaitu menjaga keberlangsungan kehidupan semesta (jagat) dan membentuk peradaban manusia yang bermartabat dan adil. Dalam konteks Indonesia kontemporer yang sarat krisis baik ekologi, sosial, hingga moral frasa ini menjadi sangat relevan sebagai arah perjuangan.
Dalam pernyataannya yang menjadi rujukan resmi
organisasi, Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa: “Pada
awal sejak pengukuhan pengurus, kami gunakan (slogan) Merawat Jagat
Membangun Peradaban. Ini adalah pemahaman kami tentang mandat dari para
pendiri NU untuk dikerjakan oleh organisasi ini,”
(Disampaikan saat acara Ngopi Bareng bersama Pemimpin Redaksi Media
Nasional dan Koresponden Asing di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu, 1 Februari 2023).
Pernyataan ini menjadi penanda bahwa frasa tersebut bukan semata simbol, tetapi
merupakan arah gerak strategis yang berakar pada warisan pendiri NU dan
ditujukan untuk menjawab kebutuhan zaman secara berkelanjutan.
“Merawat jagat” dalam pemahaman NU tidak sebatas menjaga ekologi fisik seperti hutan dan air, melainkan mencakup jagat sosial, jagat spiritual, dan jagat moral. NU, dengan akarnya yang kuat di pesantren dan tradisi keislaman yang membumi, mengajarkan bahwa menjaga kelestarian lingkungan, menebar kasih sayang antarsesama, dan membela kemanusiaan adalah bagian dari ibadah. Spirit ekologis NU menyatu dengan nilai keislaman yang tidak memisahkan antara ibadah ritual dan kepedulian sosial.
Di sisi lain, “Membangun peradaban” merupakan ekspresi dari cita-cita besar NU dalam memosisikan Islam sebagai rahmat bagi semesta, bukan alat ideologisasi kekuasaan. Peradaban yang dimaksud bukan hegemoni budaya, tetapi tatanan nilai yang ditopang oleh prinsip keadilan, akhlak, dan harmoni sosial. NU secara konsisten mempraktikkan Islam yang bersahabat dengan budaya lokal, menghormati tradisi, dan terbuka terhadap kemajemukan. Dalam menghadapi disrupsi zaman, NU menghidupkan dakwah kultural, pendidikan pesantren, seni, dan literasi digital sebagai jalan membentuk karakter bangsa yang tangguh dan berkeadaban.
Dengan demikian, semboyan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” adalah pengejawantahan dari semangat khidmah NU kepada umat, bangsa, dan semesta. Ia merepresentasikan perjuangan yang tidak bising dengan slogan kekuasaan, tetapi konsisten menyalakan cahaya di akar rumput. Di tengah dunia yang terpolarisasi, NU menawarkan wajah Islam yang ramah, membumi, dan membangun. Inilah kontribusi nyata NU dalam membingkai peradaban Indonesia masa depan yang religius, ekologis, dan humanis.
*Wakil Sekretari PCNU Kabupaten Pamekasan

