News

Muktamar NU Susun Peta Jalan 2050, Bidik Ekosistem Peradaban

JOMBANG — Komisi Program Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menyusun Peta Jalan NU 2026–2050 untuk memperkuat jam’iyah dan memperluas kontribusi organisasi bagi masyarakat, bangsa, serta dunia.

Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau yang akrab disapa Alisa Wahid mengatakan, peta jalan tersebut merupakan amanah Muktamar ke-34 setelah NU memasuki abad kedua. Dokumen itu dirancang agar sumber daya NU dapat dikelola secara tepat, terarah, dan terukur.

“Kami memperkenalkan Visi NU Digdaya 2050, yaitu tegaknya Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat, kemaslahatan bangsa, dan rahmat bagi semesta melalui kepemimpinan jam’iyah NU yang mandiri, terpercaya, dan bermartabat,” ujar Alisa saat menyampaikan hasil Sidang Komisi Program Kerja, Sabtu (29/08/2026).

NU Digdaya 2050, menurutnya, akan dicapai melalui tiga agenda utama, yakni penguatan landasan transformasi, pemenuhan kemaslahatan jemaah dan ekosistem NU, serta khidmat peradaban.

Penguatan landasan transformasi mencakup tata kelola organisasi, kaderisasi, dan digitalisasi. Pemenuhan kemaslahatan berfokus pada pesantren dan Aswaja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesejahteraan sosial ekonomi, serta lingkungan berkelanjutan.

Komisi Program Kerja juga mengusulkan Visi NU Barokah 2031 untuk periode 2026–2031. Visi tersebut diarahkan pada konsolidasi dan transformasi jamiyah yang amanah, adaptif, modern, serta berkesinambungan.

Pelaksanaannya bertumpu pada tujuh prinsip, yakni berorientasi pada jemaah, amanah, koheren, akuntabel, berkesinambungan, adaptif, dan dapat diandalkan. PBNU juga didorong meningkatkan pendampingan terhadap daerah tertinggal, terdepan, dan terluar serta wilayah dengan populasi warga NU yang minoritas.

Program prioritas lima tahun pertama meliputi tata kelola organisasi berstandar internasional, transformasi kaderisasi, Satu Data NU, pemberdayaan ekonomi warga, layanan kesehatan, keluarga maslahat, dan standardisasi mutu sekolah NU. Penguatan ideologi Aswaja, transformasi pesantren, serta gerakan sadar lingkungan turut masuk dalam agenda.

Peta jalan tersebut, lanjut Alissa, membagi perjalanan NU ke dalam lima tahap berdasarkan periode muktamar. Periode 2026–2031 berfokus pada transformasi dan konsolidasi jam’iyah, dilanjutkan akselerasi transformasi, kemandirian jamiyah pada 2036, kepemimpinan etik pada 2041–2045, serta pembentukan ekosistem peradaban pada 2046–2050.

NU juga diarahkan mengambil peran lebih besar dalam kehidupan nasional dan global. Alissa menilai organisasi perlu menjadi penyangga etika kebangsaan di tengah persoalan korupsi, penyalahgunaan wewenang, kekerasan, dan kebijakan publik yang belum sepenuhnya berpihak pada kemaslahatan rakyat.


Reporter: Asrafi
Editor: Ahnu