Opini

Santri, Warisan Ulama untuk Bumi Pertiwi

Oleh: Ach. Syarofi*

“Ulama adalah pewaris nabi. Tapi ingat, santri adalah warisan kiai untuk bumi pertiwi.” Begitulah kata yang pas dilontarkan di hari santri pada tahun ini.

Secuil ungkapan di atas muncul, mengingat ketika kita mengulas tentang santri, sangat unik dan menarik mulai dari arti, pakaian, tingkah laku, hingga sejarah santri dalam membangun negeri.

Secara harfiah, santri memiliki makna orang yang mendalami ilmu pengetahun agama dan menetap (bermukim) di suatu tempat untuk menuntaskan proses keilmuan dan pendidikannya. Namun, ketika ditelisik lebih mendalam, kata santri memiliki (kandungan) makna yang sangat mulia.

Sebagian besar orang jawa adapula yang menyematkan kata “santri” untuk seseorang yang menimba ilmu di pesantren dan memiliki kecintaan yang cukup tinggi terhadap guru/kiainya.

Di Indonesia, utamanya di Pulau Madura, seseorang yang menyandang lebel “santri” pasti meliki posisi yang berbeda. Sebab, masyarakat menilai lingkungan santri pada kesehariannya (mulai dari tingkat proses belajar [ngaji]nya, keistikmahan ibadahnya, atau amaliah lainnya yang menjadi ciri khas) sangatlah bebeda dengan kegiatan masyarakat pada umumnya. Dari proses didikan itulah santri menjadi tumpuan harapan masyarakat di negeri ini.

Dalam hal penampilannya, santri memiliki daya tarik untuk disoroti, seperti gaya berpakaian, baju, kopiah, dan sarung (ala kadarnya) yang kesemuanya itu memberi lambang bahwa santri itu memiliki sifat yang sederhana, tidak bergelimang harta, dan tak terpincut oleh gemilangnya sesuatu yang hanya bersifat duniawi.

Lebih-lebih tingkah-lakunya yang sampai saat ini menjadi ciri khas dari santri itu sendiri seperti kemandirian, lemah-lembut, sopan dalam tutur kata dan bertingkah, patuh dan hormat kepada orang tua dan guru/kiai kendati mereka sudah tiada. Maka tak heran, walaupun keberadaannya sudah boyong dari pesantren, sikap dan hatinya dalam kesehariaannya masih memiliki ikatan kepada pesantren.

Di bumi pertiwi ini, peran santri sangatlah besar dan tak terbayarkan. Peran santri tidak hanyalah berbicara persoalan ngaji dan ngaji. Tapi jauh dari itu, ada peran yang lebih penting yang harus diketahui, yakni menjadi pelopor terbentuknya bangsa yang bernama “Indonesia” ini.

Nah, hari ini tanggal 22 Oktober yang bertepatan dengan hari “Resolusi Jihad”, tentu mengajak kita untuk memutar kembali sejarah perjuangan santri dalam merebut kembali kemerdekaan.

Kita lihat fakta sejarah bagaimana peran santri dalam meraih dan merebut kemerdekaan bangsa ini yang hanya dengan senjata bambu runcing bisa mengalahkan perlawanan penjajah yang kala itu senjata yang digunakan tidak sebanding dengan para pahlawan bangsa. Hari itu pula, negara sedang tidak stabil, makan saja tidak tenang, darah di mana-dimana bertumpahan, tak terbayang perihnya, hingga banyak nyawa melayang.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Wakil Ketua Umum PBNU, H Slamet Effendy Yusuf, dalam konferensi press di gedung PBNU membeberkan, bahwa proses perjuangan santri sangat besar dan melalui tahapan yang begitu panjang.

Menurut beliau, pada tanggal 17 Agustus 1945 siaran berita proklamasi kemerdekaan sampai ke Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, membawa situasi revolusioner. Tanpa komando, rakyat berinisiatif mengambil-alih berbagai kantor dan instalasi dari penguasaan Jepang.

31 Agustus 1945 Belanda mengajukan permintaan kepada pimpinan Surabaya untuk mengibarkan bendera Tri-Warna untuk merayakan hari kelahiran Ratu Belanda, Wilhelmina Armgard.

17 September 1945 Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah fatwa jihad yang berisikan hasil ijtihad bahwa perjuangan membela tanah air sebagai suatu jihad fi sabilillah. Fatwa ini merupakan bentuk penjelasan atas pertanyaan Presiden Soekarno yang memohon fatwa hukum mempertahankan kemerdekaan bagi umat Islam.

19 September 1945 Terjadi insiden tembak-menembak di Hotel Oranje antara pasukan Belanda dan para pejuang Hizbullah Surabaya. Seorang kader Pemuda Ansor bernama Cak Asy’ari menaiki tiang bendera dan merobek warna biru, sehingga hanya tertinggal Merah Putih. 

23-24 September 1945 Terjadi perebutan dan pengambilalihan senjata dari markas dan gudang-gudang senjata Jepang oleh laskar-laskar rakyat, termasuk Hizbullah.

25 September 1945 Bersamaan dengan situasi Surabaya yang makin mencekam, Laskar Hizbullah Surabaya dipimpin KH Abdunnafik melakukan konsolidasi dan menyusun struktur organisasi. Dibentuk cabang-cabang Hizbullah Surabaya dengan anggota antara lain dari unsur Pemuda Ansor dan Hizbul Wathan. Diputuskan pimpinan Hizbullah Surabaya Tengah (Hussaini Tiway dan Moh. Muhajir), Surabaya Barat (Damiri Ichsan dan A. Hamid Has), Surabaya Selatan (Mas Ahmad, Syafi’i, dan Abid Shaleh), Surabaya Timur (Mustakim Zain, Abdul Manan, dan Achyat). 5 Oktober 1945 Pemerintah pusat membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Para pejuang eks-PETA, eks-KNIL, Heiho, Kaigun, Hizbullah, Barisan Pelopor, dan para pemuda lainnya diminta mendaftar sebagai anggota TKR melalui kantor-kantor BKR setempat.

15-20 Oktober 1945 Meletus pertempuran lima hari di Semarang antara sisa pasukan Jepang yang belum menyerah dengan para pejuang.

21-22 Oktober 1945 PBNU menggelar rapat konsul NU se-Jawa dan Madura. Rapat digelar di Kantor Hofdsbestuur Nahdlatul Ulama di Jalan Bubutan VI No. 2 Surabaya. Di tempat inilah setelah membahas situasi perjuangan dan membicarakan upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia, di akhir pertemuan pada tanggal 22 Oktober 1945 PBNU akhirnya mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad sekaligus menguatkan fatwa jihad Rais Akbar NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Dari rentetan perjuangan tersebut, tentu kita bisa menarik benang merah bahwa kemerdekaan negeri ini tidak dicapai dengan mudah. Tapi sebaliknya, melalui semangat juang santri dan kiai yang begitu menggelora hanya untuk meraih satu capaian, yakni kemerdekaan.

Lalu, masihkah santri hari ini tidak bisa menjaga kemerdekaan ini dengan baik? Tentu, ini menjadi PR bersama selaku santri untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih. Semisal memberikan dedikasi kepada masyarakat (bentuk aplikasi dari khoirunnas anfa’uhum linnas) dan mempertajam dirinya dengan pengetahuan sebagai mana yang telah termaktub dalam bahasa sanksakerta bahwa arti santri adalah melek huruf.

Jikalaupun tidak bisa mengembangkan, maka santri memiliki kewajiban untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa ini. Jiwa patriotisme harus tetap dijaga dan dipertahankan. Sebab,bkalau bukan santri, lalu siapa lagi yang akan menjadi benteng dari semuanya? Maka dari itulah tidak salah kiranya kalau melontarkan kalimat “kalau ulama adalah pewaris nabi, maka santri adalah pewaris ulama dan kiai untuk bumi pertiwi”.

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/62913/detik-detik-resolusi-jihad-nahdlatul-ulama-dan-pertempuran-10-november-1945


*Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Al-Falah Sumber Gayam, Kadur, Pamekasan sekaligus Pimpinan Umum LPM Activita IAIN Madura dan Reporter NU Online Pamekasan.