Oleh: Taufik Hasyim
(Ketua PCNU Pamekasan)
Sidang pleno pertama memang diwarnai perbedaan pendapat yang tajam, namun sebegitu hangatnya perbedaan itu masih bisa diselesaikan dengan baik. Ciri khas NU adalah ketika perbedaan pendapat sudah sangat tajam, maka dibacalah “Shalawat Badar” lalu suana kembali mencair seperti semula, bahkan sidang yang dipimpin Prof. Dr. Moh. Nuh itu penuh dengan canda tawa yang menyenangkan.
Dilanjutkan kamis pagi, sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) pengurus PBNU 2015-2021 yang berlangsung khidmat, tampak muktamirin mendengarkan dengan seksama penyampaian LPJ, dan disaat LPJ selesai dan pengurus PBNU pamitan, semua hadirin berdiri melambaikan tangan sembari mengiringinya dengan “Shalawat Badar”. Saya lihat saat itu ruangan penuh haru, bahkan ada yang meneteskan air mata.
Hari Kamis siang, dilanjutkan dengam sidang komisi. Tak tanggung-tanggung ada 6 komisi yang disiapkan oleh panitia Steering Committee (SC), yaitu tiga berupa komisi bahtsul masail (Waqi’iyah, Qanuniah dan Maudlu’iyyah), juga ada komisi organisasi, program dan rekomendasi.
Sidang komisi berlangsung agak lama, sejak jam 13:30 sampai jam 17:00, bahkan saya di komisi organisasi selesai jam 17:30. Para Kiai dan para pakar dari berbagai wilayah hadir di sidang komisi ini. Beliau-beliau bermusyawarah ber-mudzakarah tentang bagaimana NU ke depan sesuai di bidangnya.
Sidang berlagsung begitu khidmah penuh rasa dan nuansa kekeluargaan, bahkan meskipun di komisi organisasi sempat terjadi perbedaan yang tajam berkaitan dengan sistem Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA), namun berakhir dengan happy ending.
Dilanjutkan Kamis (malam jumat), sekitar jam 20:00 adalah sidang pleno laporan masing-masing komisi. Sidang berjalan lancar. Setelah pleno selesai, dilanjutkan pengumuman tabulasi tim AHWA. Diumumkan beberapa kiai yang masuk menjadi tim AHWA, kemudian para kiai itu mulai bersidang di pojok Gedung Serbaguna Universitas Lampung (UNILA). Kurang lebih 40 menit, sidang selesai. Tak lama, para kiai memasuki ruang sidang diikuti bacaan “Shalawat Badar” oleh para peserta.

Kemudian Prof. Nuh, selaku pimpinan sidang, meminta KH Makruf Amin untuk menyampaikan hasil sidang AHWA. Namun Kiai Makruf tidak berkenan, dan hampir semua kiai tim AHWA tidak ada yang berkenan. Lalu Kiai Makruf meminta KH Zainal Abidin yang menjadi anggota termuda tim AHWA untuk maju menyampaikan hasil sidang. Akhirnya, setelah diminta oleh Kiai Makruf, Kiai Zainal maju ke depan untuk mengumumkan hasil sidang tim AHWA. Saat itu ruangan menjadi hening, sepi. Rupanya para muktamirin tak sabar ingin tahu siapa Rais ‘Aam terpilih yang akan menjadi pimpinan tertinggi warga NU itu. Dan di saat Kiai Zainal menyampaikan bahwa Rais ‘Aam yang disepakati oleh tim AHWA adalah KH Miftahul Akhyar, serentak para Muktamirin membacakan “Shalawat Badar”, bahkan ada yang berpelukan dan ada yang menangis haru.
“Alhamdulillah, alhamdulillah,” kata peserta dari Lombok yang ada di samping saya.
Sekitar jam 01:00 dini hari, dilanjutkan sidang pleno dengan agenda pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah. Meskipun muktamirin tampak capai, namun tetap semangat dan antusias mengikuti sidang pleno yang ditunggu-tunggu ini.
Pemilihan dimulai. Lalu penghitungan suara. Dan yang membuat saya heran adalah jumlah pengurus cabang NU ada 587 cabang. Ya 587. Subhannallah. dalam hati saya berkata: “Sebegitu besarnya NU. Kayaknya tidak ada di dunia ini Ormas yang lebih besar dari NU. Mana ada ormas yang memiliki 587 cabang di seluruh Indonesia dan dunia?
Saat penghitungan suara berlangsung bersamaan dengan waktu azan subuh. Lalu para kiai melaksanakan salat subuh di ruangan. Saat inilah ada pengumuman sandal tertukar yang membuat para muktamirin tertawa dan tersenyum.
Pada putaran pertama, KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya unggul mengalahkan KH Said Aqil Siroj. Saat itu keharuan terjadi lagi. Saat Gus Yahya mencium tangan Kiai Said yang disaksikan oleh muktamirin.
Sekitar jam 07:00 pagi, pemilihan tahap kedua dimulai, dan alhamdulillah berjalan lancar. Gus Yahya unggul atas Kiai Said. Dan keharuan terjadi lagi yang membuat para muktamirin ada yang meneteskan air mata yaitu di saat Gus Yahya menyalami dan memeluk Kiai Said. Saat itu “Shalawat Badar” berkumandang lagi di lokasi pemilihan.
Tak lama, Prof Nuh, selaku pimpinan sidang, mengambil alih dan sebelum menetapkan Ketua Umum PBNU terpilih, terlebih dulu Prof Nuh memberikan pengantar, dan saat itu Prof Nuh haru hingga meneteskan air mata atas nikmat dari Allah sebagai rasa bangga atas suksesnya muktamar yang berjalan dengan lancar, sejuk dan teduh. Saat itu “Shalawat Badar” berkumandang lagi dan saya melihat banyak di antara Muktamirin yang juga menangis haru atas suksesnya muktamar ke-34 ini.
Alhamdulillah. Muktamar ke-34 NU di Lampung berjalan lancar dan sukses. Dari muktamar ini saya yakin, bahwa NU akan terus dijaga oleh Allah melalui para wali-Nya, sebab saya yakin bahwa yang hadir ke muktamar ini selain para kiai dari seluruh penjuru negeri dan dunia, para wali juga hadir, bahkan menurut Gus Yusuf Khudori, para malaikat juga hadir.
Wallau A’lam.

