NEWS

Warga NU Larangan Berduyun Meriahkan Harlah Ke-96

PAMEKASAN – Ratusan warga NU Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan berduyun-duyun memeriahkan peringatan Harlah NU ke-96, Sabtu (4/5/2019) di lapangan futsal Desa Montok, Kecamatan Larangan. Muslim dan muslimat, berjubel untuk mendengarkan pengajian umum yang diisi oleh KH. Imam Hasyim, pengasuh pondok pesantren Attaufiqiyah, Kecamatan Bluto, Sumenep.

Hadir sejumlah kiai dalam acara tersebut, seperti KH. Syaifuddin Syam, Rais Syuriah, KH. Moh. Juhedi, Ketua MWCNU Larangan, K. Ali Ridho, KH. Hafiduddin, KH. Musyaffak Iyadh, KH. Buhari Ahyar dan Katib Syuriah PCNU Pamekasan, KH. Abdul Bari.

Kiai Juhedi dalam sambutannya mengatakan, Harlah NU kali ini diikuti dengan kegiatan akreditasi ranting NU di 14 desa. Tujuannya untuk memotivasi para pengurus ranting agar semakin giat dalam berjamaah dan berjam’iyah.

Sementara itu, Katib Syuriah PCNU Pamekasan, Kiai Abdul Bari mengatakan, MWCNU Larangan satu-satunya yang melaksanakan akreditasi ranting. Bahkan tingkat cabang belum pernah melakukan kegiatan tersebut.

“Saya apresiasi yang tinggi untuk MWCNU Larangan. Semoga bisa jadi contoh bagi MWCNU yang lain,” ujarnya.

Kiai Abdul Bari menambahkan, menjelang satu abad NU cukup banyak pelajaran yang bisa direnungi, terutama generasi saat ini ataupun generasi selanjutnya. Jika dihitung tahun, di satu abad NU mendatang merupakan generasi kelima sejak NU dilahirkan. Di generasi kelima, menjadi pertanyaan besar, apakah generasi itu masih cinta dan ikut NU sebagai warisan pendahulunya.

“Kita lihat ke depan, apakah anak cucu kita masih cinta NU atau sudah meninggalkan NU. Ini tugas kita bersama agar di satu abad NU, NU betul-betul dicintai dan semakin diikuti oleh umat,” ungkap mantan aktivis IPNU ini.

Sementara itu, KH. Imam Hasyim dalam sebagian isi ceramahnya menyampaikan, siapapun yang ingin dianggap sebagai santrinya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, maka rawatlah NU. Pesan ini diterima Kiai Imam dari gurunya langsung, KH. Hasan Abdul Wafi Paiton, yang juga santri KH. Hasyim Asy’ari.

“Kalau kita mau menjadi santrinya ulama, maka ikutlah ulama. Kalau mau jadi santrinya Kiai Hasyim Asy’ari, maka masuklah NU dan rawatlah NU,” kata Kiai Imam.