Opini

Ghiroh Kaderisasi Itu Lahirkan 1.000 Kader Penggerak NU

Catatan Lima Tahun Kepemimpinan PCNU Pamekasan (Bagian 1)
Oleh: Ahmad Wiyono*

Organisasi apa pun tidak bisa lepas dari kegiatan kaderisasi, karena kaderisasi menjadi ujung tombak eksistensi sebuah organisasi, sekecil apa pun. Apalagi organisasi sebesar Nahdlatul Ulama (NU), butuh dukungan banyak kader untuk menggerakkan Jam’iyah agar organisasi ini  berjalan efektif hingga ke level akar rumput.

KH. Mun’im DZ Wasekjend PBNU yang sekaligus Tim Nasional PKPNU dalam sebuah kesempatan pernah penyampaikan bahwa menjelang abad kedua usia NU, kaderisasi menjadi sebuah kenisacayaan, karena kaderisasi merupakan nentuk konsolidasi organisasi untuk membangkitkan kembali semangat berjam’iyah.

Menagkap pesan akan urgensitas kaderisasi tersebut, pengurus NU disemua tingkatan langsung tancap gas membuat perencanaan kegiatan kaderisasi dari berbagai jenis dan segmen kaderisasi, begitu pula yang dilakukan oleh PCNU Pamekasan lima tahun terakhir, dengan menjadikan kegiatan kaderisasi sebagai salah satu program penting yang wajib dilakukan secara massif.

Salah satu bentuk kaderisasi yang relatif getol dilakukan selama lima tahun terakhir di lingkungan PCNU Pamekasan adalah Pendidikan Kader Penggerak (PKP), kegiatan PKP yang sudah memasuki angkatan 13 itu sudah berhasil “memproduksi” kurang lebih 1.000 kader yang tersebar disemua ranting di Pamekasan. Lahirnya 1.000 kader penggerak ini tentu bukan sebuah kebetulan, melainkan hasil dari semangat juang para pengurus NU Pamekasan yang dinakhodai langsung oleh KH. Taufik Hasyim sebagai Ketua Tanfdziyah.

1.000 kader penggerak yang dihasilkan dari proses PKPNU tersebut adalah aset jam’iyah di masa depan, kita bisa berharap banyak kepada para kader penggerak NU di Pamekasan agar mereka kelak mampu menjadi banteng-benteng pertahanan jam’iyah yang mampu menjaga marwah NU termasuk menjadi pilar penyanggah Fikrah dan Harakahnya NU. Karena mereka sudah melewati proses panang untuk betul-betul dibaiat menjadi kader Penggerak.

PKPNU di Pamekasan awal mulanya dilaksanakan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) dengan ketua Taufikurrahman Khafi, model ini berjalan hingga angkatan ketiga. Memasuki angkatan ke empat PCNU mengambil alih kegiatan PKPNU tersebut, pertimbangan utama yang dijadikan dasar adalah efektifitas dan massifitas kegiatan, akhirnya PCNU membentuk tim khusus yang kemudian diberi nama Tim PKPNU yang diketuai oleh Ustadz Salam Al-Farisi.

Berubahnya pola dan model penyelenggara PKPNU ini menjadi indikator kuat bahwa PCNU Pamekasan sangat menyeriusi kegiatan kaderisasi tersebut, tak hanya itu, pada tahun ketiga kepemimpinan KH. Taufik Hasyim, PCNU Pamekasan mengutus tiga kader terbaiknya untuk mengikuti pendidikan isntruktur yang diselengarakan oleh PWNU Jawa Timur. Maka di tahun itulah PCNU Pamekasan resmi memiliki tiga orang instruktur yang secara konsisten mengawal kegiatan PKPNU tiap angkatan. Tiga instruktur itu adalah Ustadz Taufikurrahman yang dipercaya sebagai Koordinator, sementara dua anggota lainny adalah Bapak Ahmad Asir dan Kiyai Hamdi Utsman.

Lantas apa saja peran kader Penggerak?,  pertanyaan ini sering kita dengar dari beberapa pihak untuk memastikan bagaimana andil KPNU pasca mengkuti Pendidikan selama tiga hari tiga malam tersebut. Penulis tak bisa mengurai satu persatu terkait peran strategis KPNU di tengah-tengah jamaah NU, tapi yang jelas, sebelum mereka pulang dari tempat pendidikan, para kader sudah dibekali 9 perintah kader yang kalau kita pahamai secara detil, semua perintah itu mengarah pada kebangkitan, kemajuan, kejayaan dan kemandirian jam’iyah.

Bisa kita lihat bagaimana atmosfer ke-NU-an disebuah tempat yang disitu ada kader penggeraknya, relatif jauh berbeda, karena KPNU dicetak untuk menjadi kader  yang betul-betul “gila NU”, tentu dengan tetap mengedapankan etika dan akhlakul karimah, karena semua pergerakan KPNU wajib melalui petunjuk dan instruksi para masyayiekh, ini sudah ditekankan sejak mereka dalam masa pendidikan.

Dalam setiap pembaitan KPNU, KH. Taufik Hsyim selalu berpesan agar para KPNU bisa mengisi seluruh ruang-ruang ke-NU-an yang ada disekitarnya, menghidupkan organisasi sesuai dengan kapasitasnya, sehingga KPNU menjadi mesin penggerak organisasi disemua tingatan, mulai dari ranting, MWC, lembaga dan Banom.

Mampu melahirkan sekitar 1.000 kader penggerak NU di Pamekasan ini tentu bukan akhir dari perjuangan PCNU Pamekasan dalam hal ini tim PKPNU. Kalau dipersentase 1.000 kader hanya bagian kecil dari jumlah jamaah atau warga NU di Pamekasan, maka ke depan kegiatan PKPNU tetap harus didorong lebih massif sehingga lebih banyak lagi pengurus dan waraga NU yang lahir menjadi KPNU. Lalu, bagaimana dengan kaderisasi yang lain? Secara umum semua bentuk kaderisasi formal di lingkungan PCNU Pamekasan sudah berjalan normal, terutama yang dilakukan oleh Banom. Karena kita tahu di tubuh NU setidaknya ada lima jenis kaderisasi yang sudah disahkan berdasarkan Muktamar 33 di Jombang, lima model kaderisasi itu adalah Kaderisasi struktural (MKNU), kaderisasi penggerak (PKPNU), kaderisasi calon syuriah (PPWK), kaderisasi fungsional, dan kaderisasi professional. Untuk empat jenis kaderisasi selain PKPNU, (Insya Allah) nanti akan kita bahas dalam kesempatan yang lain. Wallahu A’lam


*Penulis adalah Kader Muda Nahdlatul Ulama