Opini

GP Ansor Ormas ‘Sesat’?

Tanggapan Pelajar NU untuk Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi atas Cuitan Twitternya

Hari ini tetiba dapat informasi terkait cuitan twitter seorang Dubes Arab Saudi untuk Indonesia yang postingannya berbau fitnah dan menyeleweng karena mencampuri urusan negara lain yang bukan di bawah kewenangannya. Ini adalah pelanggaran keras diplomatik. Pemerintah kudu bertindak tegas kepada orang semacam ini.

Asal anda tahu, Mr. Osama yang terhormat. GP Ansor merupakan Banom dari Ormas Islam beraliran Ahlusunnah Wal Jamaah. NU namanya. NU merupakan Ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, terkenal dengan budaya keagamaannya yang damai, santun dan menuntun. NU lahir dari kalangan ulama yang sangat mencintai agama dan tanah airnya. Tentu saja ulama tersebut tidak sembarang membentuk organisasi, jauh sebelumnya sudah ditirakati dengan sungguh-sungguh. Makanya, NU tetap langgeng dan kokoh di bumi ini walau orang-orang seperti anda yang suka mengkerdilkan NU acapkali membuat ulah. NU mah ayem-tentrem saja.

Tanpa peran NU melalui Komite Hijaz, Arab saudi kehilangan situs bersejarah peradaban Islam di negerinya. Ini terbukti tatkala Raja Suud bersama kaum Wahabi ingin menghancurkan situs-situs bersejarah di Arab Saudi yang dianggapnya bid’ah dan menyebabkan perbuatan syirik. Ulama NU membentuk Komite Hijaz untuk memprotes kebijakan menyesatkan tersebut. Inisiatif panitia kecil yang diketuai oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah ini mampu menggemakan suara kelompok lain dan turut memprotes kebijakan Raja Suud kala itu. Alhasil, hingga saat ini umat Islam sedunia masih bisa menikmati situs-situs bersejarah di Arab Saudi, walau ada beberapa yang sudah hancur karena dianggap sebagai sumber bid’ah dan syirik.

Mr. Osama yang terhormat, ketika anda menuliskan di twitter bahwa GP Ansor adalah Ormas sesat, sama artinya anda telah menghina ulama pendiri GP Ansor, yang ‘tak lain merupakan kiai NU. Seharusnya anda sudah jauh lebih paham dibandingkan anak kecil seperti saya. Tahu siapa GP Ansor? Mari saya beri sedikit ingatan supaya lebih mengenal sosok pemuda bangsa bernama GP Ansor.

GP Ansor atau lebih lengkapnya Gerakan Pemuda Ansor merupakan salah satu Badan Otonom (Banom) yang mewadahi pergerakan kaum pemuda NU. Gerakan ini lahir tahun 1934 dengan nama Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Namun jauh sebelum itu, KH Abdul Wahab Chasbullah mendirikan organisasi bernama Syubbanul Wathon atau yang berarti pemuda tanah air. Salah satu pemimpinnya adalah Abdullah Ubaid, yang menjadi inisiator berdirinya GP Ansor. Dalam sejarah perjalanannya, Ansor telah beberapa kali berubah nama, dari Persatuan Pemuda NU, Pemuda NU, Ansor Nahdlatul Oelama hingga yang saat ini di hadapan kita, Gerakan Pemuda Ansor.

Sejarah membuktikan bahwa GP Ansor telah banyak berkiprah untuk NKRI. Turut memberantas PKI misalnya. GP Ansor bersama banomya, Banser, andil secara langsung menjaga negerinya dari partai tersebut yang ingin melakukan makar, mengganti Pancasila dengan paham Komunis. PKI melakukan kudeta dengan membunuh para kiai dan jenderal. Hingga kini kiprah GP Ansor untuk NKRI sudah tidak dapat diragukan lagi. Bersama Banser, GP Ansor terus berkonsolidasi dalam upaya mempertahankan ajaran Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah, organisasi NU, persatuan dan kesatuan bangsa serta menjadi garda terdepan NKRI.

Ketika anda mendengar kabar yang beredar secara massif di media sosial terkait insiden pembakaran bendera HTI yang kebetulan bertuliskan kalimat tauhid, maka itu juga merupakan sebuah tindakan nyata pemuda Ansor dalam menegasi ormas radikal propagandis bernama Hizbut Tahrir untuk menyelamatkan NKRI. Banyak kekacauan di negeri ini yang inisiator utamanya adalah kaum HTI, yang sebagian berafiliasi ke ISIS. Jangan menelan begitu saja informai yang beredar di media sosial. Lebih lagi Mr. Osama, anda tidak punya wewenang untuk mencampuri urusan politik Indonesia.

Untuk sebuah informasi, bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah resmi dicabut badan hukumnya dan dibubarkan oleh pemerintah sejak 7 Mei 2018 lalu. Sebelumnya ormas ini gencar berteriak untuk mengganti sistem kesepakatan bernegara di Indonesia dari Republik menjadi Khilafah. HTI juga banyak menunggangi perpolitikan di Indonesia. Misalnya saja seperti yang anda posting dalam twit. Yakni reuni 212, HTI dan para politikus banyak bermain di kegiatan tersebut. ‘Tak usah berbicara panjang lebar terkait reuni tersebut, lihat saja buktinya bahwa ada indikasi makar dengan dalih agama, mengolok pemerintah yang sah bahkan melempar fitnah kepadanya. Jika anda seorang Muslim yang baik, tindakan seperti itu apa dibenarkan dalam ajaran agama?

Dalam kasus ini memang butuh perspektif jernih dengan berlandaskan data dan fakta. Jika di dalam hati saja sudah menuai pro-kontra, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan apa yang sebenarnya ada.

Sekali lagi saya tuliskan untuk sebuah pengingat kita bersama, bahwa GP Ansor bukanlah organisasi yang sesat. Tindakan mereka sesuai prosedur. Jikapun sesat, tentu saja para ulama sudah melarang dan mengkritik kebijakan mereka. Namun sejauh ini, GP Ansor bertindak sesuai dengan dawuh para masyayikh dan ulama NU. Prinsip mereka hanya satu: Nderek dawuh para masyayikh, ulama dan kiai. Mereka meyakini bahwa ridha Allah ada pada ridha sang kiai. Jadi jika ada yang mengatakan GP Ansor, Banser atau bahkan NU adalah sesat, mari datang ke Indonesia. Biar kami ceritakan bagaimana sebenarnya kiprah mereka dalam sejarah perjuangan Islam dan Negara Indonesia. Supaya tidak terus menerus menelan mentah framing buruk informasi di media sosial. Berpikirlah secara kritis, jernih dan waras. Jangan mau diadu-domba.

Sekian dan salam damai. Damai di bumi damai di hati

Atas nama pelajar NU dan generasi muda penerusnya.

Vinanda Febriani

Senin, (03/12/2018)