BANOM NEWS

Kiai Mamak: Disrupsi Jadi Tantangan NU Masakini

PAMEKASAN – Disrupsi informasi yang sampai ke masyarakat, menyebabkan masyarakat bisa terkecoh akan kebenaran informasi tersebut. Bahkan, kesalahan bisa berubah menjadi kebenaran karena disebabkan karena adanya pembelokan atas kebenaran tersebut. Situasi inilah yang harus dihadapi dan diantisipasi oleh NU, menurut Dr. KH. Salahuddin, M. Hum, pengasuh pondok pesantren Annuqayah, Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, saat mengisi halaqah di Aula PCNU Pamekasan, Ahad (21/7/2019).

Bagaimana NU menghadapi disrupsi tersebut? Menurut Kiai Mamak- sapaan akrabnya, para wali dan ulama-ulama terdahulu sudah menunjukkan karomahnya dalam menghadapi zamannya. Maka, saat ini NU harus bisa menunjukkan karomahnya dalam menghadapi era disrupsi. NU harus bisa mengembangkan diri dari sisi keilmuan. Sebab, ilmu saat ini sudah mulai dicabut dan tercerabut dengan cara matinya ulama dan merajalelanya kebodohan.

“Hilangnya ilmu bukan semata-mata karena matinya ulama semata. Namun hilangnya peran ulama di masyarakat, dengan cara diganti oleh orang bukan ulama. Kebodohan tidak bisa disebut karena tidak adanya pengetahuan, tetapi saat ini pengetahuan sudah menjadi penghambat kebenaran,” ujar Kiai Mamak.

Kiai peraih gelar doktor di Universitas Indonesia Jakarta ini, menambahkan, di era disrupsi ini, satu kebenaran bisa ditutupi dengan kebenaran yang lain. Pola semacam ini dilakukan dengan cara menyebarkan informasi palsu atau hoaks kepada masyarakat secara terus menerus. Akibatnya, bisa menetupi kebenaran yang hakiki dan banyak dipercaya oleh banyak orang, bahkan ulama sekalipun.

“Pelaku dan pembuat hoaks itu bukan orang bodoh, tetapi orang yang memiliki pengetahuan tinggi, tetapi terhalang dari kebenaran. Produknya dianggap sebagai kebenaran dan dipuja-puja,” ungkapnya.

Fenomena semacam ini, bisa disaksikan di sejumlah media massa dan media sosial. Banyak orang yang tidak memiliki keahlian dan ilmu yang memadai, kemudian tampil menjadi penceramah dan mengeluarkan fatwa-fatwa salah, tanpa disertai rujukan ilmu yang benar. Persoalan agama, bagi mereka sudah bukan sesuatu yang serius demi mengejar popularitas. Hal ini bertentangan dengan NU dalam memutuskan satu perkara yang bisa menghabiskan waktu yang panjang. Salah satu contohnya, bagaiamana NU memutuskan hukum salah satu persoalan melalui musyawarah bernama forum bahsul masail yang alot, panjang, menguras fikiran dan ilmu.

NU, menurut Kiai Mamak, tidak bisa mengikuti pola yang dibuat oleh kelompok-kelompok tersebut. NU harus tetap kembali ke akarnya sebagai organisasi kemasyarakat. NU harus mengkonsolidasikan diri sebagai organisasi ahlussunnah wal jamaah, yang tidak ada duanya di dunia ini.

“Biarkan organisasi modern itu memikirkan bagaimana organisasi dan struktur mereka hidup. NU tidak pakai struktur-struktur modern, tetapi tetap kembali ke kulturnya,” terangnya.*

Penulis : Abror
Editor : Ahmad Wiyono