Opini

Menghidupkan “Tenda Besar” NU Pamekasan: Dari Menjaga Gawang ke Ruang Tengah yang Inklusif


Prof. Dr. Moh. Zahid, M.Ag.*


Tahniah

Saya ucapakan Selamat, sukses dan barokah kepada seluruh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Pamekasan masa bakti 2026 – 2030 yang akan dilantik hari ini, Sabtu, 18 Dzul Qa’dah 1447 H/ 16 Mei 2026 M yang bertempat di PP. Matsaratul Huda Panempan Pamekasan.

Sudah barang tentu ada beragam asa dan optimisme dari berbagai elemen masyarakat khususnya warga NU dengan pelantikan pengurus baru PCNU Pamekasan ini. Tulisan sederhana ini pun sekadar sumbang saran sekaligus doa dan optimisme NU Pamekasan semakin jaya dan membawa kemaslahatan bagi umat.

Kilas Balik

Setidaknya ada 2 motif utama kehadiran Nahdlatul Ulama pada saat awal didirikan tahun 1926, yaitu: 1) menjaga dan mempertahankan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah dan 2) mewadahi kesadaran nasionalisme dan melawan penjajahan. Sebagai organisasi Ulama, motif keagamaan paling mendasar adalah membentengi serbuan paham Wahabi, sejak runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani dan bangkitnya Dinasti Saud di Arab Saudi pada era tahun 1920-an. “Mode Bertahan” ini merupakan ciri khas gerakan NU sejak dulu sampai sekarang. Di NU tidak mentradisi untuk “menyerang”, tapi lebih pada membela diri. Meski tampak santun, namun kadang “kebobolan”, bahkan masih terasa sampai saat ini. Karenanya para ulama NU sudah sering menyampaikan pentingnya evaluasi diri sekaligus melakukan inovasi gerakan keagamaan yang lebih efektif, dengan jargon al-muhafadhah `ala al-qadîm ash-shalih wa al-akhd bi al-jadîd al-ashlah.

Sementara secara politik-kebangsaan, KH. Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU menyadari bahwa perjuangan melawan penjajah Belanda tidak bisa dilakukan secara individual atau terpecah-pecah. Pesantren-pesantren yang tersebar di berbagai daerah perlu diorganisasi dalam satu struktur yang solid. Karenanya tidak heran NU punya jargon “NKRI Harga Mati”, karena para ulama dan santrinya punya andil besar atas kemerdekaan bangsa ini.

Konteks Pamekasan

Kabupaten Pamekasan acapkali dibaca sebagai salah satu barometer dinamika keagamaan di Madura. Karakter masyarakatnya yang ekspresif dalam beragama, berpadu dengan munculnya berbagai faksi dan gerakan keagamaan baru—mulai dari gerakan puritan, transnasional, hingga tren hijrah kaum muda urban—membuat ruang publik keagamaan di daerah ini selalu dinamis, bahkan sesekali memercikkan ketegangan ideologis.

Menghadapi realitas kontemporer ini, PCNU Pamekasan tidak lagi bisa menggunakan strategi lama: “Mode Bertahan” sebatas jaga gawang, bersikap reaktif-konfrontatif, atau sekadar memberi label “salah” pada kelompok luar. NU Pamekasan harus berani melakukan reposisi radikal namun anggun: menjadi ruang tengah (the middle space)—sebuah tenda besar yang proaktif-edukatif dan inklusif.

Cikal bakal ini sesungguhnya telah dilakukan oleh para ulama NU Pamekasan, namun menjadi monumental saat Ketua PCNU Pamekasan (saat itu dijabat oleh Drs. KH. Kholilurrahman, SH) bertindak sebagai Koordinator Deklator Gerbangsalam (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami) di Pamekasan pada tahun 2002. Gerakan ini merupakan upaya titik temu antara dakwah kultural dan struktural yang khas di Kabupaten Pamekasan. Beliau jugalah sebagai Ketua PCNU Pamekasan yang menghimpun 5 organisasi keagamaan di Pamekasan (Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persatuan Islam, Al-Irsyad al-Islamiyah, dan Syarikat Islam) dalam wadah Fokus (Forum Komunikasi Ormas Islam) pada kisaran tahun 2005. Wadah ini sebagai ikhtiar untuk meredakan ketegangan dan membangun keharmonisan antar Ormas Islam di Kabupaten Pamekasan. Dari wadah ini pulalah, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pamekasan kembali bisa diaktifkan. Kepengurusan PCNU Pamekasan berikutnya juga instens menjalin komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat mulai lintas partai, kalangan birokrasi, para akademisi, para pengusaha, dan berbagai elemen lainnya.

Jalan sudah dirintis, sebuah keniscayaan bagi para pengurus PCNU Pamekasan yang hari ini dilantik untuk memperkuat bangunan “Tenda Besar” itu agar mampu meramu beragam potensi dari beragam elemen menjadi kekuatan dahsyat untuk kemasalahatan umat. Sudah barang tentu tidak sekadar mempertahankan tradisi keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah, namun berbagai aspek lainnya semisal berkaitan dengan harmoni sosial, keadaban politik, dan ketahanan ekonomi umat. Insya Allah, bi `awn Allah, “Bisa, Bisa, Bisa”

Bahan Renungan

Mode Bertahan NU ala penjaga gawang, yang biasanya bereaksi ketika ada bola yang diarahkan ke gawangnya. Kalau reaksinya pas, terukur, dan tepat maka kemungkinan gawangnya selamat dari kebobolan. Namun akan bermasalah jika reaksinya tidak demikian. Pendekatan defensif ini, walau dalam konteks tertentu efektif menjaga dan mempertahankan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, namun dalam jangka panjang berisiko melahirkan kesan bahwa NU adalah organisasi yang eksklusif. Pilihannya menguatkan posisi proaktif-edukatif dengan mengambil inisiatif (proaktif) untuk mengedukasi publik secara ilmiah, santun, dan berbasis digital. Edukasi harus menjadi panglima gerakan. “Dakwah NU itu merangkul, bukan memukul. Membina, bukan menghina. Menyayangi, bukan menyaingi. Mendidik, bukan membidik.” (Dawuh Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar) Dengan cara ini, NU tidak sedang merendahkan kelompok lain, melainkan sedang menaikkan kelas intelektualitas warganya sendiri. (Baca kembali: Fikrah Nahdliyah hasil Muktamar ke-31 NU di Boyolali, Jawa Tengah tahun 2004)

Berawal dari sudut pandang proaktif-edukatif, maka NU Pamekasan akan istiqamah memosisikan diri sebagai pengayom, titik temu (kalimatun sawa), dan mediator bagi berbagai dinamika sosial-keagamaan yang terjadi baik internal maupun eksternal. Inklusif ke dalam (internal) bermakna bahwa NU Pamekasan harus merangkul seluruh spektrum kulturalnya, mulai dari kiai sepuh di pesantren besar, kiai kampung di pelosok desa, akademisi di kampus, politisi, pengusaha hingga kader muda yang gandrung pada teknologi. Tidak boleh ada jarak atau klasifikasi sosiologis yang membuat kader potensial merasa terasing di rumahnya sendiri. Sementara inklusif ke luar (eksternal) bermakna bahwa NU Pamekasan memiliki rasa percaya diri yang tinggi (self-confidence) untuk berdialog, bekerja sama, dan hidup berdampingan dengan kelompok keagamaan manapun di Pamekasan dalam bingkai ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wataniyah. NU tidak lagi melihat perbedaan sebagai ancaman, melainkan sebagai realitas sosial yang harus dikelola.

Tentu saja, membumikan konsep “Tenda Besar yang Inklusif” di Pamekasan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan terbesarnya adalah menyelaraskan persepsi antara pengurus struktural di tingkat cabang (PCNU) dengan para penggerak di tingkat wakil cabang (MWCNU) dan ranting (PRNU). Namun yakinlah bahwa posisi NU di ruang tengah yang proaktif-edukatif adalah manifestasi nyata dari watak asli NU itu sendiri dan akan menjadi magnet bagi generasi baru Pamekasan yang merindukan Islam Kaffah yang ramah, berilmu, dan solutif di tengah zaman yang riuh ini. Amin ya Rabb al-`alamîn.

Wallahu a`lam bis ash-shawab. Semoga bermanfaat.


* Rektor IAI Miftahul Ulum Panyeppen Pamekasan