Opini

Merawat Khidmah Peradaban melalui NU di Era Transformasi Digital


Oleh: Achmad Muhlis*


Menjelang pelantikan pengurus PCNU Pamekasan, pada tanggal 16 Mei 2026 di PP. Matsaratul Huda Panempan dengan tema besar “Bersama dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi”, refleksi tentang makna ke-NU-an menjadi sangat penting untuk dikaji secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai identitas organisatoris, tetapi sebagai paradigma sosial, budaya, dan spiritual dalam membangun peradaban masyarakat. Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya tidak sekadar hadir sebagai organisasi keagamaan, melainkan sebagai gerakan kebudayaan yang menghubungkan antara pendidikan, dakwah, pemberdayaan sosial, dan pembentukan karakter masyarakat berbasis nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam konteks masyarakat modern yang mengalami disrupsi teknologi, perubahan budaya, dan krisis moral, PCNU Pamekasan dituntut untuk tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mampu mentransformasikannya menjadi kekuatan sosial yang relevan dengan tantangan zaman.

Secara filosofis, NU Pamekasan dibangun di atas fondasi khidmah, yakni pengabdian sebagai jalan spiritual dan sosial. Dalam tradisi pesantren dan NU, pengabdian bukan sekadar aktivitas organisatoris, tetapi bentuk kesadaran moral bahwa hidup manusia harus memberi manfaat bagi orang lain. Karena itu, pendidikan dan dakwah dalam tradisi NU selalu memiliki orientasi kemasyarakatan. Ilmu tidak dipandang sebagai instrumen individual untuk memperoleh status sosial semata, tetapi sebagai sarana membangun kemaslahatan bersama. Dakwah juga tidak dimaknai sebagai proses indoktrinasi yang keras, melainkan proses pendampingan sosial yang penuh hikmah, kasih sayang, dan penghormatan terhadap budaya masyarakat.

NU Pamekasan memiliki karakter unik karena tumbuh dari basis kultural masyarakat bawah, terutama pesantren dan komunitas pedesaan. Hal ini menjadikan NU bukan hanya organisasi elit intelektual, tetapi gerakan sosial yang memiliki akar kuat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tradisi tahlil, istighatsah, maulid, pengajian kampung, hingga gotong royong sosial merupakan bentuk konkret bagaimana NU membangun solidaritas sosial melalui pendekatan budaya dan spiritual. Dalam teori sosiologi agama, model seperti ini menciptakan apa yang disebut sebagai social cohesion, yakni keterikatan sosial yang lahir dari pengalaman nilai bersama.

Namun, masyarakat modern menghadirkan tantangan baru yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Transformasi digital telah mengubah pola komunikasi, pola belajar, bahkan pola keberagamaan manusia. Informasi bergerak sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi kedalaman literasi dan kebijaksanaan moral. Media sosial menghadirkan ruang demokratis, tetapi juga melahirkan polarisasi, ujaran kebencian, budaya instan, dan krisis otoritas keilmuan. Dalam situasi seperti ini, dakwah dan pendidikan ke-NU-an tidak cukup hanya mempertahankan metode lama, tetapi harus mampu memasuki ruang digital dengan tetap menjaga nilai-nilai moderasi, etika, dan kemanusiaan.

Transformasi digital dalam perspektif NU seharusnya tidak dipahami sekadar penggunaan teknologi, tetapi transformasi cara berpikir dan cara membangun pelayanan sosial keagamaan. Teknologi harus menjadi alat memperluas manfaat, bukan alat memperluas konflik. Karena itu, generasi muda NU dituntut memiliki kemampuan literasi digital yang tidak hanya teknis, tetapi juga etis. Mereka harus mampu memproduksi narasi dakwah yang mencerahkan, membangun ruang edukasi yang inklusif, dan menghadirkan Islam sebagai agama rahmah di tengah masyarakat digital yang sering kehilangan empati sosial.

Dalam konteks pendidikan, transformasi digital juga membuka peluang besar bagi pengembangan sistem pembelajaran berbasis kolaborasi, kreativitas, dan penguatan karakter. Pesantren dan lembaga pendidikan NU memiliki tantangan untuk mengintegrasikan tradisi klasik dengan teknologi modern tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya. Kitab kuning, pengajian tradisional, dan sanad keilmuan tetap menjadi fondasi penting, tetapi harus mampu berdialog dengan dunia digital agar tidak terisolasi dari perkembangan zaman.

Di sinilah konsep kurikulum cinta menjadi sangat relevan. Kurikulum cinta bukan sekadar model pembelajaran emosional, tetapi paradigma pendidikan yang menempatkan kasih sayang, penghormatan terhadap manusia, dan pembangunan empati sebagai inti proses pendidikan. Dalam masyarakat yang semakin kompetitif dan individualistik, pendidikan sering kali kehilangan dimensi kemanusiaannya. Peserta didik didorong mengejar prestasi, tetapi kurang diajak memahami makna hidup, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama.

Kurikulum cinta dalam tradisi NU sebenarnya memiliki akar yang sangat kuat dalam budaya pesantren. Relasi antara kiai dan santri tidak dibangun semata-mata atas dasar transfer ilmu, tetapi juga hubungan emosional dan spiritual. Pendidikan berlangsung melalui keteladanan, perhatian, dan keberkahan relasi sosial. Lingkungan yang penuh kasih sayang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan mental dan karakter individu. Anak didik yang merasa dihargai dan dicintai akan lebih mudah membangun rasa percaya diri, empati, dan kestabilan emosional.

Kepemimpinan profetik juga menjadi bagian penting dalam transformasi NU masa kini. Kepemimpinan profetik bukan kepemimpinan yang hanya berorientasi kekuasaan struktural, tetapi kepemimpinan yang meneladani sifat-sifat kenabian, diantaranya, shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Dalam konteks organisasi dan dakwah, kepemimpinan profetik berarti membangun budaya organisasi yang jujur, melayani, berintegritas, dan berpihak kepada kemaslahatan masyarakat.

Masyarakat modern saat ini, sedang mengalami krisis keteladanan. Banyak figur publik hadir dengan pencitraan yang kuat tetapi miskin integritas moral. Karena itu, generasi muda membutuhkan figur pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan dalam kehidupan nyata. Kepemimpinan profetik menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan sensitivitas sosial.

Tema “Bersama dalam Khidmah, Berdaya dalam Ekonomi” juga menunjukkan kesadaran penting bahwa dakwah dan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari persoalan kesejahteraan masyarakat. Dalam sejarahnya, NU selalu dekat dengan realitas sosial rakyat kecil. Karena itu, pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dari khidmah sosial. Kemandirian ekonomi bukan sekadar persoalan material, tetapi bagian dari menjaga martabat umat agar tidak mudah terjebak dalam ketergantungan dan ketimpangan sosial.

Masyarakat yang kuat secara ekonomi memiliki peluang lebih besar membangun pendidikan, menjaga budaya, dan mempertahankan identitas sosialnya. Oleh karena itu, penguatan ekonomi berbasis komunitas, kewirausahaan santri, ekonomi kreatif, dan transformasi digital ekonomi menjadi agenda penting bagi gerakan PCNU Pamekasan masa depan.

Pendidikan dan dakwah dalam tardisi NU Pamekasan, bukanlah dua ruang yang terpisah, melainkan dua jalan yang saling menguatkan dalam membangun peradaban. Pendidikan tanpa dakwah akan kehilangan orientasi moralnya, sementara dakwah tanpa pendidikan akan kehilangan kedalaman intelektualnya. Dalam dunia modern yang penuh disrupsi, NU Pamekasan memiliki tanggung jawab historis untuk tetap menjadi penjaga nilai-nilai moderasi, kemanusiaan, dan spiritualitas sekaligus menjadi motor transformasi sosial yang adaptif terhadap perkembangan zaman.


* Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Wakil Katib PCNU Pamekasan, Direktur Utama IBS PKMKK